Sabtu, 24 April 2021

Manajemen Kelas

 

Nama : Meta Dwi Julianti

Kelas : PAI/4E

NIM : 11901043

Makul : Magang 1

Dosen Pengampu : Farninda Aditya, M.Pd

 

A.    Konsep Dasar Manajemen Kelas

1.      Pengertian Manajemen

Manajemen berasal dari kata bahasa Inggris; “Management”, dengan kata kerja “ tomanage” yang secara umum mengurusi, mengemudikan, mengelola, menjalankan, membina atau memimpin; kata benda “management”, dan “manage” artinya orang yang melakukan kegiatan manajemen. Ada juga yang beranggapan bahwa manajemen itu berasal dari kata “mantis” yang berarti tangan dan “agere” yang artinya melakukan. Kemudian kata tersebut digabung menjadi kata kerja “managere” yang berarti menangani. Kata “managere” yang diterjemahkan dari kata bahasa inggris dalam bentuk kata kerja “to manage” untuk orang yang melakukan manajemen.

Manajemen merupakan usaha-usaha agar tercapainya suatu tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya dengan menggunakan kekuatan orang lain (Terry,1997). Menurut stoner Freeman, dan Gilbert (2005) mengatakan bahwa manajemen merupakan suatu proses dari perencanaan, pengorgansasian, kepemimpinan serta pengawasan terhadap anggota organisasi dan penggunaan semua sumber daya yang mempunyai organisasi agar tercapainya tujuan organisasi.

 

2.      Pengertian Manajemen Kelas

Manajemen kelas terdiri dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas. Manajemen adalah suatu rangkaian usaha yang berguna agar tercapainya tujuan yang sudah ditetapkan dengan memanfaatkan orang lain, sedangkan yang dimaksud dengan kelas ialah suatu kelompok yang melakukan kegiatan belajar bersama sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan, dan di dalam kelas tersebut, guru bertugas sebagai manajer utama dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengaktualisasikan, dan melaksanakan pengawasan atau supervisi kelas.

Kelas dalam perspektif pendidikan yang dapat dipahami sebagai sekelompok siswa yang berada pada waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama, dan besumber dari guru yang sama. Nawawi (Djamrah, 2006:177) menyatakan bahwa manajemen dapat diartikan sebagai kemampuan guru dalam mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap individu untk melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah.

Manajemen kelas merupakan suatu usaha sadar yang berguna untuk merencanakan, mengorganisasikan, dan melaksanakna pengawasan atau supervisi terhadap program dan suatu kegiatan yang ada di kelas sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara sistematis, efektif, dan efisien, sehingga segala potensi siswa mampu di optimalkan.

 

3.      Jenis kelas

a.       Kelas yang ribut. Guru harus bisa menghabiskan banyak waktu untuk mengawasi kelas yang ribut. Keributan itu disebabkan oleh perilaku dan sikap siswa yang sulit untuk diberitahu, diberi instruksi, dan diatur oleh guru. Siswa cenderung sangat aktif dan tidak disiplin. Selain itu aturan, petunjuk, dan teguran sering diabaikan oleh siswa, sebab siswa menganggap hukuman yang diberikan oleh guru dianggap sepele.

b.      Kelas yang kondusif. Berbeda halnya dengan kelas yang ribut. Kelas yang kondusif mempunyai iklim yang positif bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Guru mampu menciptakan suasana dan kondisi belajar yang menyenangkan bagi siswa. Tidak hanya itu, model dan metode pembelajaran  yang ditetapkan oleh guru pun bersifat atraktif dan mampu merangsang kreativitas siswa.

c.       Kelas yang disiplin dan tenang. Guru yang termapil akan mampu menciptakan kelas yang disiplin dan tenang. Siswa yang patuh terhadap aturan yang telah ditetapkan oleh guru di kelas sebab aturan itu telah disetujui oleh siswa untuk diterapkan di kelas. Pelanggaran yang dilakukan oleh siswa akan dicatat, diberi sanksi, dan di dievaluasi untuk efektifitasnya.

d.      Kelas yang berlangsung secara alamiah. Kelas yang alamiah beroperasi dengan sendirinya. Guru akan menghabiskan waktunya untuk melaksanakan tugasnya sebagai pengajar. Siswa mampu mengikuti pelajaran dengan mandiri tanpa pengawasan ketat yang dilakukan oleh guru. Siswa yang terlibat dalam proses belajar aktif untuk saling berinteraksi.

 

4.      Pendekatan dalam Manajemen

a.       Pendekatan prosesoperasional. Manajemen dapat dianalisi dari sudut pandangan apa yang diperbuat seorang manajer untuk memenuhi persyaratan sebagai seorag manajer. Kegiatan dan fungsi-fungsi dasar membentuk suatu proses yang dapat dinamakan proses manajemen. Pendekatan proses itu memusatkan perhatiaanya pada fungsi-fungsi dasar manajemen. Proses pendekatan itu sangat berguna, sebab ia sangat menolong dalam mengembangakan pemikiran manajemen dan membantu menentukan bentuk manajemen dalam ketentuan-ketentuan yang dapat dipahami. Setiap kegiatan belajar oleh seorang manjer dapat digolongkan sejajar dengan proses dasar itu. Yang menganut pendektan ini memandang manajemen sebagai suatu proses universal, tapi yang menganut pendekatan ini juga harus memahami itu digunakan, berbeda-beda diantara organisasi.

b.      Pendekatan perilaku manusia. Pemahaman manajemen dalam pendekekatan ini melalui metode dan konsep ilmu sosial, terkhusus psikologi dan antropologi. Pendektana ini mempunyai penekanan yang terletak pada hubungan antar individu, serta bagaimana dampaknya. Individu dipandai sebagai makhluk sosio-psikologis. Sebagaimana orang memandang manajer itu sebagai pemimpin dan memperlakukan semua kegiatan-kegiatan orang yang dipimpinnnya sebagai keadaan-keadaan maanjerial. Motivasi perilaku manusia dapat berdampak pada pengaruh lingkungan.

c.       Pendekatan sistem sosial. Pendekatan ini berorientasi secara sosiologis, yang berhubungan dengan berbagai kelompok sosial dan budaya, serta berusaha menyatukan kelompok-kelompok tersebut kedalam suatu sistem sosial. Pendekatan ini melahirkan pandangan yang berhubungan dengan organisasi informal, yang sudah dianggap tumbuh menjadi sesuatu, yang disebabkan oleh kekuatan sosial.

d.      Pendekatan sistem. Sistem adalah bagian penting yang dikembangkan oleh pendekatan ini. Suatu sistem dapat dipandang sebagai suatu gabungan atau himpunan dua komponen atau lebih, yang saling berkaitan dalam pola hubungan tertentu. Sistem adalah seperangkat komponen yang saling berhubungan dan saling beraksi. Pendekatan ini menyederhanakan dan menyatukan konsepsi berbagai kegiatan yang rumit menjadi lebih sederhana.

e.       Pendekatan kuantitatif. Pendektan ini dikembangkan melalui model, proses, hubungan, dan data matematika yang dapat diukur. Pendekatan kuantitatif memandang manajemen sebagai kedaulatan yang logis, dengan menggunakan metodologi yang dapat diterima. Pendekatan kuatitatif berhubungan dengan pengambilan keputusan, maka pendekatan kuantitatif merupakan salah satu bentuk manajemen efektif.

 

5.      Tujuan Manajemen Kelas

Tujuan merupakan sebuah titik akhir dari kegiatan dan tujuan sebagai pangkal tolak pelaksanaan kegiatan selanjutnya. Tujuan akan berhasil jika dilihat dari efektifitas dalam pencapaian tujuan itu dan tingkat efisiensi dari penggunaan berbagai sumber daya yang dimiliki. Keberhasilan suatu proses manajemen kelas dapat dilihat dari tujuan yang ingin dicapainya, oleh sebab itu  pendidik harus menetapkan tujuan yang hendak dicapai dengan kegiatan manajemen kelas yang dilakukannya. Pada umumnya manajemen kelas bertujuan untuk meningkatakan efektivitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan pembelajaran.

Ketercapaian tujuan manajemen kelas dapat dideteksi dan dapat dilihat dari:

a.       Anak-anak akan memberikan respon yang sama terhadap perlakuan yang sopan dan penuh perhatian dari orang yang lebih dewasa.

b.      Anak-anak akan rajin melakukan tugas-tugas dengan konsentrasi jika tugas ini sesuai dengan kemampuannya.

 

6.      Pendekatan Manajemen Kelas

a.       Pendekatan kekuasaan: dapat dipahami jika pendekatan kekuasaan dalam manajemen kelas itu ialah  suatu proses untuk mengontrol perilaku peserta didik didalam kelas. Disinilah peran guru untuk menciptakan dan mempertahankan keadaan kelas yang disiplin. Yang perlu dilandasi guru dalam menciptakan kedisiplinan ialah kekuasaan dan norma yang mengikat untuk ditaati oleh individu yang ada di kelas. Dengan itu, fungsi guru adalah sebagai seseorang yang berkuasa di dalam kelas yang perlu dipahami dan diterapkan dengan baik, agar peserta didik dapat mencapai tujuan belajar dan pembelajaran dengan baik.

b.      Pendekatan ancaman: ialah pendekatan untuk mengontrol perilaku peserta didik di dalam kelas. Pendektan ini dapat di implememtasikan melalui papan larangan, sindiran saat belajar, dan paksaan kepada peserta didik yang membantah, dan itu berguna agar peserta didik mau mengikuti diinstruksikan oleh guru. Peran guru dalam pendektan ini ialah untuk memberi efek jera keada peserta didik yang mana tujuannya untuk peserta didik agar mamapu belajar sesuai dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan.

c.       Pendekatan kebebasan: pendektan ini dapat dipahami sebagai salah satu proses untuk membantu peserta didik agar merasa memiliki kebebasan untuk mengerjakan sesuatu sesuai dengan apa yang ia inginkan, tanpa dibatasi oleh waktu dan tempat. Peran guru dalam pendektan ini ialah mengusahakan dengan semaksimal mungkin bahwa kebebasan peserta didik merupakan prioritas dalam proses belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas. Pendekatan kebebasan ini harus diawasi dengan ketat dari guru agar proses belajar yang dilalui sesuai dengan apa yang diharapakan dan ditetapkan dalamsuatu tujuan belajar dan pembelajaran.

d.      Pendekatan resep: pendekatan ini dilaksanakan dengan memberikan satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau sistuasi yang terjadi di dalam kelas.

e.       Pendekatan pengajaran: pendekatan ini didasari oleh anggapan bahwa pengajaran yang baik itu akan mampu mencegah munculnya masalah yang disebakan oleh peserta didik di dalam kelas. Pendektan ini menyarankan untuk guru berperilaku sebagai pengajar pembelajaran dalam rangka mencegah dan menghentikan perilaku peserta didik yang kurang baik di dalam kelas.

f.       Pendekatan perubahan perilaku: yang dimaksud pendekatan ini ialah suatu proses untuk mengubah perilaku peserta didik di dalam kelas. Peran guru disini ialah untuk mengembangkan perilaku peserta didik yang baik, dan mencegah perilaku yang kurang baik.

g.      Pendekatan sosio emosional: pendektan ini akan tercapai secara optimal jika hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan ini meliputi hubungan antar guru dengan peserta didik, serta hubungan antar peserta didik. Dalam hal ini, guru adalah kunci dalam mengembangan hubungan ini.

h.      Pendektan elektis atau pluralistik: ialah pengelolaan kelas dengan memanfaatkan berbagai macam pendekatan dalam rangka menciptakan dan mempertahankan kondisi belajar yang efektif dan efisien.

i.        Pendekatan teknologi dan informasi: pendekatan ini berasumsi bahwa pembelajaran tidak cukup hanya dengan kegiatan ceramah dan transfer pengetahuan, bahwa pembelajaran yang moderen perlu memanfaatkan penggunaan teknologi dan informasi di dalam kelas.

 

7.      Prinsip Manajemen Kelas: hangat, antusias, tantangan, bervariasi, keluwesan, penekanan hal yang positif, dan penanaman kedisiplinan.

 

8.      Faktor yang mempengaruhi Manajemen Kelas

a.       Lingkungan fisik

b.      Kondisi sosio emosional

c.       Kondisi organisasional

 

9.      Komponen keterampilan Manajemen Kelas

Komponen keterampilan manajemen kelas pada umumnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventi) dan keterampilan yang berhubungan dengan pengendaliaan kondisi belajar yang optimal.

 

10.  Permasalahan dalam Manajemen Kelas

a.       Campur tangan yang berlebihan

b.      Kesenyapan

c.       Ketidak tepatan melalui dan mengakhiri kegiatan

d.      Penyimpangan

e.       Bertele-tele

f.       Pengulangan penjelasan yang tidak perlu

 

 

Referensi :

Toharuddin,Moh. 2020. Buku Ajar Manajemen kelas. Semarang : IKAPI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar