Rabu, 23 Juni 2021

Kultur sekolah, Aktivitas Siswa, dan Pembelajaran

 

Nama : Meta Dwi Julianti

Kelas : PAI/4E

NIM : 11901043

Makul : Magang 1

Dosen Pengampu : Farninda Aditya, M.Pd

 

A.    Kultur Sekolah

1.      Pengertian Kultur Sekolah

Konsep kultur dalam dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri, yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses produksi (baca:pembelajaran) secara efektif dan efisien. Sebagaimana tidak ada satu definisi baku tentang budaya, demikian juga tidak ada definisi baku mengenai kultur sekolah.( Zamroni,2000:149)

Adapun kultur sekolah yang dirumuskan Zamroni ialah sebagai pola nilai-nilai,norma-norma, sikap, ritual, mitos dan kebiasaan – kebiasaan yang terbentuk dalam perjalanan panjang sekolah, di mana kultur sekolah tersebut dipegang bersama oleh kepala sekolah, guru, staf, maupun siswa, sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah.

2.      Penciptaan Kultur Sekolah

Sekolah adalah sebuah organisasi. Kultur sekolah adalah kultur organisasi dalam hal persekolahan, maka dari itu yang dimaksud kultur sekolah sama halnya dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur dapat diartikan sebagai kualitas internal –latar, lingkungan, suasanan, rasa, sifat, dan iklim yang dirasakan oleh seluruh orang.

kultur adalah  konsep yang dikembangkan oleh pakar antropologi organisasi. Kultur organisasi didefenisikan sebagai kualitas kehidupan (the quality of life) dalam sebuah organisasi, termanifestasikan dalam aturan-aturan atau norma, tatakerja, kebiasaan kerja (work habits), gaya kepemimpinan seseorang ataupun bawahan.  Dalam rentang dua puluh tahun terakhir, topik kultur dalam organisasi menarik perhatian banyak orang, khususnya mereka yang mempelajari masalah perilaku organisasi. Sedangkan  Mustopadidjaya berpendapat bahwa terkait dengan teori organisasi dan manajamen terdapat empat paradigma yaitu: paradigma organisasi klasik, paradigma hubungan kemanusiaan, paradigma keperilakuan dan paradigma modern/ sistem. Salah satu di antaranya yang memiliki keterkaitan dengan penulisan ini adalah paradigma perilaku.

3.      Elemen-elemen Kultur Sekolah

Kultur sekolah adalah perangkat budaya yang terdiri dari sejumlah  norma – norma , ritual – ritual, keyakinan, nilai – nilai, sikap, mitos, dan kebiasaan yang terbentuk sepanjang perjalanan sekolah yang bersangkutan. Fenomena yang unik dan menarik, karena pandangan, sikap, serta perilaku yang hidup dan berkembang di sekolah pada dasarnya mencerminkan, kepercayaan dan keyakinan yang mendalam dan khas bagi warga sekolah yang dapat digunakan sebagai suatu spirit yang mendukung dan membangun kinerja sekolah, ini merupakan bentuk dari kultur sekolah secara intrinsik.

Menurut Hedley Beare (Sastrapratedja, 2001: 14) menyatakan bahwa ada dua kategori unsur-unsur budaya sekolah yaitu unsur yang kasat mata dan unsur yang tidak kasat mata. Makna dari unsur yang tidak kasat mata yaitu kalau berkaitan dengan yang tidak kesat mata, seperti filsafat atau pandangan dasar sekolah mengenai kenyataan yang luas, makna hidup, tugas manusia di dunia dan nilai – nilai, yaitu yang dianggap penting dan harus diperjuangkan oleh sekolah. Sedangkan unsur yang kasat mata itu dapat termanifestasi secara konseptual/verbal maupun visual/ materil, meliputi:

1.      Visi, misi, tujuan dan sasaran

2.      Kurikulum

3.      Bahasa komunikasi

4.      Narasi sekolah

5.      Narasi tokoh-tokoh

6.      Struktur organisasi

7.      Ritual

8.      Upacara

9.      Prosedur belajar-mengajar

10.  Peraturan, sistem hukuman

11.  Pelayanan psikologis sosial

12.  Pola interaksi sekolah dengan orang tua/masyarakat, dan yang materil dapat berupa: a). Fasilitas dan peralatan; b). Artifak dan tanda kenangan; c). pakaian seragam.

Kultur sekolah mempunyai dua lapisan, yaitu lapisan yang pertama ialah lapisan yang bisa diamati seperti : arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan –peraturan, cerita - cerita, upacara, ritus – ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar – gambar, tanda – tanda sopan santun dan cara berpakaian. Lapisan yang tidak dapat diamati secara jelas dapat berintikan norma perilaku bersama warga suatu organisasi. Lapisan kedua kultur berupa nilai – nilai bersama yang di anut kelompok berhubungan dengan apa yang penting, yang baik, dan yang benar. Lapisan kedua ini tidak dapat diamati sebab terletak di dalam kehidupan bersama. Kalau lapisan yang pertama berintikan norma perilaku bersama sukar diubah, jadi lapisan kedua yang berintikan nilai-nilai dan keyakinan sangat sulit diubah serta memerlukan waktu untuk berubah.

4.      Peran kultur terhadap peningkatan kinerja Sekolah

Sekolah merupakan suatu sistem yang memiliki 3 aspek pokok yang sangat berkaitan dengan mutu sekolah, yaitu dengan adanya proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. Kultur sekolah sangat berpengaruh dalam kinerja siswa manakala kualifikasi kultur sehat, solid, kuat, positif, dan profesional. Jadi dengan begitu kultur sekolah menjadi komitmen luas di sekolah, menjadi jati diri dan kepribadian sekolah. Dengan adanya kultur sekolah yang demikian, maka suasana kekeluargaan, kolaborasi, semangat terus maju, dorongan bekerja keras dan belajar-mengajar dapat diciptakan.

Konsep kultur sebagai suatu pendekatan dalam upaya memperbaiki kondisi organisasi sekolah yang lebih menekankan kepada penghayatan segi - segi simbolik, tradisi, riwayat sekolah yang kesemuanya akan membentuk keyakinan, kepercayaan diri dan kebanggaan akan sekolahnya. Pendekatan kultur tidak sama dengan pendekatan struktur. Pendekatan struktur cenderung tampak ingin menciptakan hal – hal besar dengan mengubah struktur untuk mengubah perilaku, sementara perilaku seseorang pada kenyataannya terlalu kuat untuk direstrukturisasi atau direformasi dari luar. Sedangkan pendekatan kultur justru mengusahakan agar muncul orang – orang besar, berjiwa besar atau dalam arti membangun manusia yang meliputi sifat, karakter, visi, dan daya tahan melalui internalisasi norma, sikap, kebiasaan serta nilai –nlai yang bersifat positif. Jadi bukan hanya kecerdasan IQ yang tinggi menjadikan seseorang akan berhasil tetapi juga dipengaruhi oleh motivasi, ketekunan, minat, kesabaran, dan unsur – unsur kepribadian.

5.      Pengembangan kultur untuk meningkatkan kinerja siswa

Keberadaan siswa sangatlah penting dalam kelangsungan pendidikan di sekolah. Membangun kegiatan pengajaran dan pendidikan di sekolah tidak saja berarti membangun kegiatan kinerja guru melainkan juga kinerja siswa. Pentingnya upaya – upaya meningkatkan kinerja siswa dalam proses pemebelajaran dirinya,sebab pada hakikatnya merekalah pemilik sekolah. Untuk membantu proses belajar siswa maka disediakannya sekolah dan komponen lainnya.

Pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) adalah generasi muda dan aset bangsa yang mana dalam perkembangannya sangat sensitif untuk menemukan jati dirinya atau dalam pembentukan watak dan karakter pribadinya. Maka dari itu harus dipersiapkan generasi muda ini agar memiliki watak dan karakter yang unggul dan tangguh dan memiliki komitmen terhadap kewajibannya sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Pendidikan yang berwujud lembaga atau institusi sekolah dalam istilah kebudayaan. Pendidikan adalah proses pembudayaan atau “enculturation”, suatu proses untuk mentasbihkan seseorang mampu hidup dengan budaya tertentu. ( Zamroni, 2001: 25). Sementara itu dalam perspektif kultur, Djohar (1999: 127) menyatakan bahwa sekolah merupakan tempat mensosialisasikan nilai – nilai budaya, tidak hanya terbatas pada nilai–nilai keilmuan tetapi semua nilai-nilai kehidupan yang memungkinkan terwujudnya manusia berbudaya. Manusia berbudaya dapat dinilai dari kinerjanya yang dipandang dari dimensi pengetahuan, cara berpikir, sikap, perilaku, cara kerja, dari melihat dan menanggapi serta memecahkan masalah.

Pendidikan pada mulanya merupakan proses respon psikologik anak terhadap rangsangan eksternal dari kondisi yang bersifat alamiah, maupun yang sifatnya terjadi secara langsung sebagai manifestasi budaya guru dan siswa secara umum, dan kondisi artifisial yang diciptakan oleh sekolah. Dengan begitu pengembangan kultur akademik, kultur sosial dan kultur membangun pribadi anak yang kondusif, dapat meningkatkan motivasi dan pencapaian belajaranya termasuk dalam pengembangan kultur sekolah.

 

B.     Aktivitas Siswa

Aktivitas belajar merupakan aktivitas yang bersifat fisik dan mental, yang dilakukan oleh setiap individu untuk membangun pengetahuan dan keterampilan dalam diri dalam kegiatan pembelajaran. Dalam kegiatan belajar keduanya saling berkaitan. Aktivitas belajar dapat terwujud apabila siswa terlibat belajar secara aktif. Jenis kegiatan tersebut meliputi, membaca, merumuskan pembelajaran, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mendengarkan percakapan, diskusi, menuli scerita, menanggapi. Peran guru sangat penting dalam kelas, karna guru harus mampu memberikan fasilitas berupa ilmu kepada anak peserta didik. Hal yang terpenting bagi guru adalah memberikan motivasi pada siswa dan memberikan penjelasan mengenai tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran.

Aktivitas belajar merupakan hal yang sangat penting bagi siswa, karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk bersentuhan dengan obyek yang sedang dipelajari seluas mungkin, karena dengan demikian proses konstruksi pengetahuan yang terjadi akan lebih baik. Belajar diperlukan aktivitas, sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat mengubah tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas.

Adapun aspek aktivitas belajar siswa ialah aktivitas lisan, aktivitas kognitif, aktivitas motorik, aktivitas pengelihatan dan aktivitas pendengaran. Aspek aktivitas Lisan ialah mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian mengajukan pertanyaan, memberi saran, mengemukakan pendapat, dan diskusi. Aktivitas kognitif ialah semua proses dan produk pikiran untuk mencapai pengetahuan yang berupa aktifitas mental (otak) seperti mengingat, mensimbolkan, mengkategorikan, memecahkan masalah, menciptakan dan berfantasi. Aktivitas motorik adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku gerakan yang dilakukan oleh tubuh manusia. Aktivitas penglihatan dalam pembelajaran yaitu segala kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas siswa dalam melihat, mengamati, dan memperhatikan. Aktivitas pendengaran yaitu aktivitas yang berhubungan dengan kemampuan siswa dalam berkonsentrasi menyimak pelajaran.

 

C.     Pembelajaran

Pembelajaran merupakan proses kegiatan belajar mengajar yang juga berperan dalam menentukan keberhasilan belajar siswa. Dari proses pembelajaran itu akan terjadi sebuah kegiatan timbal balik antara guru dengan siswa untuk menuju tujuan yang lebih baik. Oleh karena itu, proses pembelajaran musik yang tepat di ekstrakurikuler band sangat dibutuhkan dalam kegiatan berkesenian untuk menghasilkan sebuah karya musik (lagu) melalui aransemen yang pada akhirnya lagu tersebut terkesan baru dan siswa mampu untuk membawakan musik dengan baik. Untuk melakukan sebuah proses pembelajaran, terlebih dahulu harus dipahami pengertian dari kata pembelajaran.

Proses pembelajaran adalah proses yang di dalamnya terdapat kegiatan interaksi antara guru-siswa dan komunikasi timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan belajar. Dalam proses pembelajaran, guru dan siswa merupakan dua komponen yang tidak bisa dipisahkan. Antara dua komponen tersebut harus terjalin interaksi yang saling menunjang agar hasil belajar siswa dapat tercapai secara optimal.

Adapun tujuan dari pembelajaran ialah sebagai upaya membekali diri siswa dengan kemampuan-kemampuan yang bersifat pengalaman, pemahaman moral dan keterampilan sehingga mengalami perkembangan positif. Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat beberapa komponen pembelajaran yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya yaitu: 1) guru, 2) siswa, 3) materi pembelajaran, 4) metode pembelajaran, 5) media pembelajaran, 6) evaluasi pembelajaran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar