Sabtu, 10 April 2021

Kultur Sekolah

Nama : Meta Dwi Julianti

Kelas : PAI/4E

NIM : 11901043

Makul : Magang 1

Dosen Pengampu : Farninda Aditya, M.Pd

 

Kultur Sekolah

 

A.    Pengertian Kultur

Istilah kultur berasal dari kata “culture” yang diartikan “budaya”. Didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kultur diterjemahkan sebagai kebudayaan. Istilah budaya dalam berbagai wacana, ada yang mengatakan berbeda dan ada juga yang mengatakan sama dengan kebudayaan. Dikatakan berbeda karena budaya merupakan bahasa sanskerta “buddhi”, yang memiliki arti “budi” atau “akal” yang berupa cipta, rasa dan karsa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, rasa dan karsa itu. Dikatakan sama karena dari segi anthropologi budaya misalnya, budaya merupakan singkatan dari kebudayaan. Maka dari itu, kedua istilah tersebut mempunyai arti yang sama.

Menurut Koentjaraningrat (1983:184) kebudayaan atau budaya memiliki tiga macam wujud, yaitu : a). Kebudayaan sebagai ide, gagasan, nilai, norma, atau peraturan. b). Kebudayaan sebagai aktivitas atau tindakan manusia yang berpola sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat. c). Kebudayaan sebagai hasil karya.

Dari pendapat diatas dapat dijelaskan bahwa budaya atau kultur dengan demikian dapat mengandung pengertian dalam istilah populer yaitu merujuk kepada minat dan aktivitas tertentu, misalnya musik, sastra, seni (budaya sebagai hasil karya). Dan dalam istilah teknis yaitu segala yang hidup di dalam suatu kelompok (manusia).

Menurut sastrapratedja (2001:1) istilah budaya atau kultur pada organisasi termasuk lembaga pendidikan yang merupakan fenomena yang relatif baru. Di tahun 1960-an digunakan istilah “organization culture” yang sinonim dengan “climate” atau “suasana”. Pada tahun 1970-an, istilah serupa “corporate culture”. Sastrapratedja juga menyatakan tidak ada satu definisi baku tentang pengertian corporate culture atau organizational culture.

Sastrapratedja (2001:2-3) menguraikan aspek-aspek penting dari budaya atau kultur organisasi dari berbagai hasil penelitian sebagai berikut:

a.       Budaya adalah hasil cipta komunikasi. Budaya muncul dan dipertahankan oleh tindakan-tindakan komunikasi dari semua anggota dan bukan hanya strategi dorongan dari para manajer di atas.

b.      Budaya terdiri atas asumsi-asumsi yang diandaikan, makna yang dihayati bersama dan nilai-nilai yang mendasari pemecahan masalah-masalah kritis, pengambilan keputusan, pengendalian, komunikasi antarwarga, persepsi dan pembenaran tindakan.

c.       Budaya mengejala dalam proses pembentukan identitas organisasi.

 

Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa kultur atau budaya merupakan suatu organisasi yang dapat dikatakan sebagai ide, gagasan atau nilai, persepsi, serta pandangan hidup tentang suatu organisasi yang tampak dalam aktivitas yang berpola, teratur, dan ada unsur kebiasaan, serta dapat menghasilkan sesuatu sebagai karya organisasi/kelompok.

Sekolah merupakan sebuah organisasi yang mana didalamnya terdapat sekumpulan orang-orang yang setiap orangnya mempunyai tujuan dan terhimpun kedalam satu susunan yang mempunyai tugas dan tanggung jawab. Sekolah merupakan organisasi yang mempunyai peran dan tujuan/harapan. Norma, aturan, atau ketentuan-ketentuan yang mengatur hubungan kerja antara orang satu dengan yang lain merupakan hal yang berlaku dalam menjalankan peran dan mencapai tujuan.

Di samping budaya yang ada dikalangan guru,staf, dan yang lainnya, ada yang turut mewarnai budaya khas suatu sekolah yaitu siswa. Siswa adalah salah satu subsistem dalam sistem organisasi sekolah yang dengan budaya atau subkulturnya sendiri yang turut mewarnai budaya. Organisasi sekolah itu disebut sebagai school culture.

 

B.     Pengertian Kultur Sekolah

Konsep kultur dalam dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di dunia industri, yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses produksi (baca:pembelajaran) secara efektif dan efisien. Sebagaimana tidak ada satu definisi baku tentang budaya, demikian juga tidak ada definisi baku mengenai kultur sekolah.( Zamroni,2000:149)

Adapun kultur sekolah yang dirumuskan Zamroni ialah sebagai pola nilai-nilai,norma-norma, sikap, ritual, mitos dan kebiasaan – kebiasaan yang terbentuk dalam perjalanan panjang sekolah, di mana kultur sekolah tersebut dipegang bersama oleh kepala sekolah, guru, staf, maupun siswa, sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah.

 

C.     Penciptaan Kultur Sekolah

Sekolah adalah sebuah organisasi. Kultur sekolah adalah kultur organisasi dalam hal persekolahan, maka dari itu yang dimaksud kultur sekolah sama halnya dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur dapat diartikan sebagai kualitas internal –latar, lingkungan, suasanan, rasa, sifat, dan iklim yang dirasakan oleh seluruh orang.

kultur adalah  konsep yang dikembangkan oleh pakar antropologi organisasi. Kultur organisasi didefenisikan sebagai kualitas kehidupan (the quality of life) dalam sebuah organisasi, termanifestasikan dalam aturan-aturan atau norma, tatakerja, kebiasaan kerja (work habits), gaya kepemimpinan seseorang ataupun bawahan.  Dalam rentang dua puluh tahun terakhir, topik kultur dalam organisasi menarik perhatian banyak orang, khususnya mereka yang mempelajari masalah perilaku organisasi. Sedangkan  Mustopadidjaya berpendapat bahwa terkait dengan teori organisasi dan manajamen terdapat empat paradigma yaitu: paradigma organisasi klasik, paradigma hubungan kemanusiaan, paradigma keperilakuan dan paradigma modern/ sistem. Salah satu di antaranya yang memiliki keterkaitan dengan penulisan ini adalah paradigma perilaku.

 

D.    Elemen-elemen Kultur Sekolah

Kultur sekolah adalah perangkat budaya yang terdiri dari sejumlah  norma – norma , ritual – ritual, keyakinan, nilai – nilai, sikap, mitos, dan kebiasaan yang terbentuk sepanjang perjalanan sekolah yang bersangkutan. Fenomena yang unik dan menarik, karena pandangan, sikap, serta perilaku yang hidup dan berkembang di sekolah pada dasarnya mencerminkan, kepercayaan dan keyakinan yang mendalam dan khas bagi warga sekolah yang dapat digunakan sebagai suatu spirit yang mendukung dan membangun kinerja sekolah, ini merupakan bentuk dari kultur sekolah secara intrinsik.

Menurut Hedley Beare (Sastrapratedja, 2001: 14) menyatakan bahwa ada dua kategori unsur-unsur budaya sekolah yaitu unsur yang kasat mata dan unsur yang tidak kasat mata. Makna dari unsur yang tidak kasat mata yaitu kalau berkaitan dengan yang tidak kesat mata, seperti filsafat atau pandangan dasar sekolah mengenai kenyataan yang luas, makna hidup, tugas manusia di dunia dan nilai – nilai, yaitu yang dianggap penting dan harus diperjuangkan oleh sekolah. Sedangkan unsur yang kasat mata itu dapat termanifestasi secara konseptual/verbal maupun visual/ materil, meliputi:

1.      Visi, misi, tujuan dan sasaran

2.      Kurikulum

3.      Bahasa komunikasi

4.      Narasi sekolah

5.      Narasi tokoh-tokoh

6.      Struktur organisasi

7.      Ritual

8.      Upacara

9.      Prosedur belajar-mengajar

10.  Peraturan, sistem hukuman

11.  Pelayanan psikologis sosial

12.  Pola interaksi sekolah dengan orang tua/masyarakat, dan yang materil dapat berupa: a). Fasilitas dan peralatan; b). Artifak dan tanda kenangan; c). pakaian seragam.

 

Kultur sekolah mempunyai dua lapisan, yaitu lapisan yang pertama ialah lapisan yang bisa diamati seperti : arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan –peraturan, cerita - cerita, upacara, ritus – ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar – gambar, tanda – tanda sopan santun dan cara berpakaian. Lapisan yang tidak dapat diamati secara jelas dapat berintikan norma perilaku bersama warga suatu organisasi. Lapisan kedua kultur berupa nilai – nilai bersama yang di anut kelompok berhubungan dengan apa yang penting, yang baik, dan yang benar. Lapisan kedua ini tidak dapat diamati sebab terletak di dalam kehidupan bersama. Kalau lapisan yang pertama berintikan norma perilaku bersama sukar diubah, jadi lapisan kedua yang berintikan nilai-nilai dan keyakinan sangat sulit diubah serta memerlukan waktu untuk berubah.

 

E.     Peran kultur terhadap peningkatan kinerja Sekolah

Sekolah merupakan suatu sistem yang memiliki 3 aspek pokok yang sangat berkaitan dengan mutu sekolah, yaitu dengan adanya proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. Kultur sekolah sangat berpengaruh dalam kinerja siswa manakala kualifikasi kultur sehat, solid, kuat, positif, dan profesional. Jadi dengan begitu kultur sekolah menjadi komitmen luas di sekolah, menjadi jati diri dan kepribadian sekolah. Dengan adanya kultur sekolah yang demikian, maka suasana kekeluargaan, kolaborasi, semangat terus maju, dorongan bekerja keras dan belajar-mengajar dapat diciptakan.

Konsep kultur sebagai suatu pendekatan dalam upaya memperbaiki kondisi organisasi sekolah yang lebih menekankan kepada penghayatan segi - segi simbolik, tradisi, riwayat sekolah yang kesemuanya akan membentuk keyakinan, kepercayaan diri dan kebanggaan akan sekolahnya. Pendekatan kultur tidak sama dengan pendekatan struktur. Pendekatan struktur cenderung tampak ingin menciptakan hal – hal besar dengan mengubah struktur untuk mengubah perilaku, sementara perilaku seseorang pada kenyataannya terlalu kuat untuk direstrukturisasi atau direformasi dari luar. Sedangkan pendekatan kultur justru mengusahakan agar muncul orang – orang besar, berjiwa besar atau dalam arti membangun manusia yang meliputi sifat, karakter, visi, dan daya tahan melalui internalisasi norma, sikap, kebiasaan serta nilai –nlai yang bersifat positif. Jadi bukan hanya kecerdasan IQ yang tinggi menjadikan seseorang akan berhasil tetapi juga dipengaruhi oleh motivasi, ketekunan, minat, kesabaran, dan unsur – unsur kepribadian.

 

F.      Pengembangan kultur untuk meningkatkan kinerja siswa

Keberadaan siswa sangatlah penting dalam kelangsungan pendidikan di sekolah. Membangun kegiatan pengajaran dan pendidikan di sekolah tidak saja berarti membangun kegiatan kinerja guru melainkan juga kinerja siswa. Pentingnya upaya – upaya meningkatkan kinerja siswa dalam proses pemebelajaran dirinya,sebab pada hakikatnya merekalah pemilik sekolah. Untuk membantu proses belajar siswa maka disediakannya sekolah dan komponen lainnya.

Pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) adalah generasi muda dan aset bangsa yang mana dalam perkembangannya sangat sensitif untuk menemukan jati dirinya atau dalam pembentukan watak dan karakter pribadinya. Maka dari itu harus dipersiapkan generasi muda ini agar memiliki watak dan karakter yang unggul dan tangguh dan memiliki komitmen terhadap kewajibannya sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Pendidikan yang berwujud lembaga atau institusi sekolah dalam istilah kebudayaan. Pendidikan adalah proses pembudayaan atau “enculturation”, suatu proses untuk mentasbihkan seseorang mampu hidup dengan budaya tertentu. ( Zamroni, 2001: 25). Sementara itu dalam perspektif kultur, Djohar (1999: 127) menyatakan bahwa sekolah merupakan tempat mensosialisasikan nilai – nilai budaya, tidak hanya terbatas pada nilai–nilai keilmuan tetapi semua nilai-nilai kehidupan yang memungkinkan terwujudnya manusia berbudaya. Manusia berbudaya dapat dinilai dari kinerjanya yang dipandang dari dimensi pengetahuan, cara berpikir, sikap, perilaku, cara kerja, dari melihat dan menanggapi serta memecahkan masalah.

Pendidikan pada mulanya merupakan proses respon psikologik anak terhadap rangsangan eksternal dari kondisi yang bersifat alamiah, maupun yang sifatnya terjadi secara langsung sebagai manifestasi budaya guru dan siswa secara umum, dan kondisi artifisial yang diciptakan oleh sekolah. Dengan begitu pengembangan kultur akademik, kultur sosial dan kultur membangun pribadi anak yang kondusif, dapat meningkatkan motivasi dan pencapaian belajaranya termasuk dalam pengembangan kultur sekolah.

 

 

Referensi :

Hasan, Kamaruddin. 2014. Membangun Kultur Sekolah. Semarang: Cv Bina Karya Utama

 

Imtihan, Nurul. 2018. Kultur sekolah dan kinerja Peserta didik MAN Yogyakarta III. TADBIR, Vol.6,No.2

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar