Nama : Meta Dwi Julianti
Kelas : PAI/4E
NIM : 11901043
Makul : Magang 1
Dosen Pengampu : Farninda Aditya, M.Pd
Kultur Sekolah
A.
Pengertian Kultur
Istilah kultur berasal dari kata “culture” yang diartikan “budaya”.
Didalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kultur diterjemahkan sebagai kebudayaan.
Istilah budaya dalam berbagai wacana, ada yang mengatakan berbeda dan ada juga
yang mengatakan sama dengan kebudayaan. Dikatakan berbeda karena budaya merupakan
bahasa sanskerta “buddhi”, yang memiliki arti “budi” atau “akal” yang berupa
cipta, rasa dan karsa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, rasa dan
karsa itu. Dikatakan sama karena dari segi anthropologi budaya misalnya, budaya
merupakan singkatan dari kebudayaan. Maka dari itu, kedua istilah tersebut
mempunyai arti yang sama.
Menurut Koentjaraningrat (1983:184) kebudayaan atau budaya memiliki tiga
macam wujud, yaitu : a). Kebudayaan sebagai ide, gagasan, nilai, norma, atau
peraturan. b). Kebudayaan sebagai aktivitas atau tindakan manusia yang berpola
sebagai rangkaian aktivitas manusia dalam suatu masyarakat. c). Kebudayaan
sebagai hasil karya.
Dari pendapat diatas dapat dijelaskan bahwa budaya atau kultur dengan
demikian dapat mengandung pengertian dalam istilah populer yaitu merujuk kepada
minat dan aktivitas tertentu, misalnya musik, sastra, seni (budaya sebagai
hasil karya). Dan dalam istilah teknis yaitu segala yang hidup di dalam suatu
kelompok (manusia).
Menurut sastrapratedja (2001:1) istilah budaya atau kultur pada organisasi
termasuk lembaga pendidikan yang merupakan fenomena yang relatif baru. Di tahun
1960-an digunakan istilah “organization culture” yang sinonim dengan “climate”
atau “suasana”. Pada tahun 1970-an, istilah serupa “corporate culture”.
Sastrapratedja juga menyatakan tidak ada satu definisi baku tentang pengertian
corporate culture atau organizational culture.
Sastrapratedja (2001:2-3) menguraikan aspek-aspek penting dari budaya atau
kultur organisasi dari berbagai hasil penelitian sebagai berikut:
a.
Budaya adalah hasil cipta komunikasi. Budaya muncul dan dipertahankan oleh
tindakan-tindakan komunikasi dari semua anggota dan bukan hanya strategi
dorongan dari para manajer di atas.
b.
Budaya terdiri atas asumsi-asumsi yang diandaikan, makna yang dihayati
bersama dan nilai-nilai yang mendasari pemecahan masalah-masalah kritis,
pengambilan keputusan, pengendalian, komunikasi antarwarga, persepsi dan
pembenaran tindakan.
c.
Budaya mengejala dalam proses pembentukan identitas organisasi.
Dari keterangan di atas, dapat disimpulkan
bahwa kultur atau budaya merupakan suatu organisasi yang dapat dikatakan
sebagai ide, gagasan atau nilai, persepsi, serta pandangan hidup tentang suatu
organisasi yang tampak dalam aktivitas yang berpola, teratur, dan ada unsur
kebiasaan, serta dapat menghasilkan sesuatu sebagai karya organisasi/kelompok.
Sekolah merupakan sebuah organisasi yang mana
didalamnya terdapat sekumpulan orang-orang yang setiap orangnya mempunyai
tujuan dan terhimpun kedalam satu susunan yang mempunyai tugas dan tanggung
jawab. Sekolah merupakan organisasi yang mempunyai peran dan tujuan/harapan. Norma,
aturan, atau ketentuan-ketentuan yang mengatur hubungan kerja antara orang satu
dengan yang lain merupakan hal yang berlaku dalam menjalankan peran dan
mencapai tujuan.
Di samping budaya yang ada dikalangan
guru,staf, dan yang lainnya, ada yang turut mewarnai budaya khas suatu sekolah
yaitu siswa. Siswa adalah salah satu subsistem dalam sistem organisasi sekolah
yang dengan budaya atau subkulturnya sendiri yang turut mewarnai budaya.
Organisasi sekolah itu disebut sebagai school culture.
B.
Pengertian Kultur Sekolah
Konsep kultur dalam dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja di
dunia industri, yakni merupakan situasi yang akan memberikan landasan dan arah
untuk berlangsungnya suatu proses produksi (baca:pembelajaran) secara efektif
dan efisien. Sebagaimana tidak ada satu definisi baku tentang budaya, demikian
juga tidak ada definisi baku mengenai kultur sekolah.( Zamroni,2000:149)
Adapun kultur sekolah yang dirumuskan Zamroni ialah sebagai pola
nilai-nilai,norma-norma, sikap, ritual, mitos dan kebiasaan – kebiasaan yang
terbentuk dalam perjalanan panjang sekolah, di mana kultur sekolah tersebut
dipegang bersama oleh kepala sekolah, guru, staf, maupun siswa, sebagai dasar
mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul di sekolah.
C.
Penciptaan Kultur Sekolah
Sekolah adalah sebuah organisasi. Kultur sekolah adalah kultur organisasi
dalam hal persekolahan, maka dari itu yang dimaksud kultur sekolah sama halnya
dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur dapat diartikan sebagai kualitas
internal –latar, lingkungan, suasanan, rasa, sifat, dan iklim yang dirasakan
oleh seluruh orang.
kultur adalah konsep yang
dikembangkan oleh pakar antropologi organisasi. Kultur organisasi didefenisikan
sebagai kualitas kehidupan (the quality of life) dalam
sebuah organisasi, termanifestasikan dalam aturan-aturan atau norma, tatakerja,
kebiasaan kerja (work habits), gaya kepemimpinan seseorang ataupun bawahan. Dalam rentang dua puluh tahun terakhir, topik
kultur dalam organisasi menarik perhatian banyak orang, khususnya mereka yang
mempelajari masalah perilaku organisasi. Sedangkan Mustopadidjaya berpendapat bahwa terkait
dengan teori organisasi dan manajamen terdapat empat paradigma yaitu: paradigma
organisasi klasik, paradigma hubungan kemanusiaan, paradigma keperilakuan dan
paradigma modern/ sistem. Salah satu di antaranya yang memiliki keterkaitan
dengan penulisan ini adalah paradigma perilaku.
D.
Elemen-elemen Kultur Sekolah
Kultur sekolah adalah perangkat budaya yang terdiri dari sejumlah norma – norma , ritual – ritual, keyakinan,
nilai – nilai, sikap, mitos, dan kebiasaan yang terbentuk sepanjang perjalanan
sekolah yang bersangkutan. Fenomena yang unik dan menarik, karena pandangan,
sikap, serta perilaku yang hidup dan berkembang di sekolah pada dasarnya
mencerminkan, kepercayaan dan keyakinan yang mendalam dan khas bagi warga
sekolah yang dapat digunakan sebagai suatu spirit yang mendukung dan membangun
kinerja sekolah, ini merupakan bentuk dari kultur sekolah secara intrinsik.
Menurut Hedley Beare (Sastrapratedja, 2001: 14) menyatakan bahwa ada dua
kategori unsur-unsur budaya sekolah yaitu unsur yang kasat mata dan unsur yang
tidak kasat mata. Makna dari unsur yang tidak kasat mata yaitu kalau berkaitan
dengan yang tidak kesat mata, seperti filsafat atau pandangan dasar sekolah
mengenai kenyataan yang luas, makna hidup, tugas manusia di dunia dan nilai –
nilai, yaitu yang dianggap penting dan harus diperjuangkan oleh sekolah.
Sedangkan unsur yang kasat mata itu dapat termanifestasi secara
konseptual/verbal maupun visual/ materil, meliputi:
1.
Visi, misi, tujuan dan sasaran
2.
Kurikulum
3.
Bahasa komunikasi
4.
Narasi sekolah
5.
Narasi tokoh-tokoh
6.
Struktur organisasi
7.
Ritual
8.
Upacara
9.
Prosedur belajar-mengajar
10.
Peraturan, sistem hukuman
11.
Pelayanan psikologis sosial
12.
Pola interaksi sekolah dengan orang tua/masyarakat, dan yang materil dapat
berupa: a). Fasilitas dan peralatan; b). Artifak dan tanda kenangan; c).
pakaian seragam.
Kultur sekolah mempunyai dua lapisan, yaitu
lapisan yang pertama ialah lapisan yang bisa diamati seperti : arsitektur, tata
ruang, eksterior dan interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan –peraturan,
cerita - cerita, upacara, ritus – ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar
– gambar, tanda – tanda sopan santun dan cara berpakaian. Lapisan yang tidak
dapat diamati secara jelas dapat berintikan norma perilaku bersama warga suatu
organisasi. Lapisan kedua kultur berupa nilai – nilai bersama yang di anut
kelompok berhubungan dengan apa yang penting, yang baik, dan yang benar.
Lapisan kedua ini tidak dapat diamati sebab terletak di dalam kehidupan
bersama. Kalau lapisan yang pertama berintikan norma perilaku bersama sukar
diubah, jadi lapisan kedua yang berintikan nilai-nilai dan keyakinan sangat
sulit diubah serta memerlukan waktu untuk berubah.
E.
Peran kultur terhadap peningkatan kinerja Sekolah
Sekolah merupakan suatu sistem yang memiliki 3 aspek pokok yang sangat
berkaitan dengan mutu sekolah, yaitu dengan adanya proses belajar mengajar,
kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur sekolah. Kultur sekolah sangat
berpengaruh dalam kinerja siswa manakala kualifikasi kultur sehat, solid, kuat,
positif, dan profesional. Jadi dengan begitu kultur sekolah menjadi komitmen
luas di sekolah, menjadi jati diri dan kepribadian sekolah. Dengan adanya
kultur sekolah yang demikian, maka suasana kekeluargaan, kolaborasi, semangat
terus maju, dorongan bekerja keras dan belajar-mengajar dapat diciptakan.
Konsep kultur sebagai suatu pendekatan dalam upaya memperbaiki kondisi
organisasi sekolah yang lebih menekankan kepada penghayatan segi - segi simbolik,
tradisi, riwayat sekolah yang kesemuanya akan membentuk keyakinan, kepercayaan
diri dan kebanggaan akan sekolahnya. Pendekatan kultur tidak sama dengan
pendekatan struktur. Pendekatan struktur cenderung tampak ingin menciptakan hal
– hal besar dengan mengubah struktur untuk mengubah perilaku, sementara
perilaku seseorang pada kenyataannya terlalu kuat untuk direstrukturisasi atau direformasi
dari luar. Sedangkan pendekatan kultur justru mengusahakan agar muncul orang –
orang besar, berjiwa besar atau dalam arti membangun manusia yang meliputi
sifat, karakter, visi, dan daya tahan melalui internalisasi norma, sikap,
kebiasaan serta nilai –nlai yang bersifat positif. Jadi bukan hanya kecerdasan
IQ yang tinggi menjadikan seseorang akan berhasil tetapi juga dipengaruhi oleh
motivasi, ketekunan, minat, kesabaran, dan unsur – unsur kepribadian.
F.
Pengembangan kultur untuk meningkatkan kinerja siswa
Keberadaan siswa sangatlah penting dalam kelangsungan pendidikan di
sekolah. Membangun kegiatan pengajaran dan pendidikan di sekolah tidak saja
berarti membangun kegiatan kinerja guru melainkan juga kinerja siswa. Pentingnya
upaya – upaya meningkatkan kinerja siswa dalam proses pemebelajaran dirinya,sebab
pada hakikatnya merekalah pemilik sekolah. Untuk membantu proses belajar siswa
maka disediakannya sekolah dan komponen lainnya.
Pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) adalah generasi muda dan aset
bangsa yang mana dalam perkembangannya sangat sensitif untuk menemukan jati
dirinya atau dalam pembentukan watak dan karakter pribadinya. Maka dari itu
harus dipersiapkan generasi muda ini agar memiliki watak dan karakter yang
unggul dan tangguh dan memiliki komitmen terhadap kewajibannya sebagai individu
maupun anggota masyarakat.
Pendidikan yang berwujud lembaga atau institusi sekolah dalam istilah
kebudayaan. Pendidikan adalah proses pembudayaan atau “enculturation”, suatu
proses untuk mentasbihkan seseorang mampu hidup dengan budaya tertentu. (
Zamroni, 2001: 25). Sementara itu dalam perspektif kultur, Djohar (1999: 127)
menyatakan bahwa sekolah merupakan tempat mensosialisasikan nilai – nilai budaya,
tidak hanya terbatas pada nilai–nilai keilmuan tetapi semua nilai-nilai
kehidupan yang memungkinkan terwujudnya manusia berbudaya. Manusia berbudaya
dapat dinilai dari kinerjanya yang dipandang dari dimensi pengetahuan, cara
berpikir, sikap, perilaku, cara kerja, dari melihat dan menanggapi serta
memecahkan masalah.
Pendidikan pada mulanya merupakan proses respon psikologik anak terhadap
rangsangan eksternal dari kondisi yang bersifat alamiah, maupun yang sifatnya
terjadi secara langsung sebagai manifestasi budaya guru dan siswa secara umum,
dan kondisi artifisial yang diciptakan oleh sekolah. Dengan begitu pengembangan
kultur akademik, kultur sosial dan kultur membangun pribadi anak yang kondusif,
dapat meningkatkan motivasi dan pencapaian belajaranya termasuk dalam
pengembangan kultur sekolah.
Referensi :
Hasan, Kamaruddin. 2014. Membangun Kultur Sekolah.
Semarang: Cv Bina Karya Utama
Imtihan, Nurul. 2018. Kultur sekolah dan kinerja
Peserta didik MAN Yogyakarta III. TADBIR, Vol.6,No.2
Tidak ada komentar:
Posting Komentar