Nama : Meta Dwi Julianti
Kelas : PAI/4E
NIM : 11901043
Makul : Magang 1
Dosen Pengampu : Farninda Aditya, M.Pd
A.
Konsep Dasar Manajemen Kelas
1.
Pengertian Manajemen
Manajemen berasal dari kata bahasa Inggris; “Management”, dengan kata kerja
“ tomanage” yang secara umum mengurusi, mengemudikan, mengelola, menjalankan,
membina atau memimpin; kata benda “management”, dan “manage” artinya orang yang
melakukan kegiatan manajemen. Ada juga yang beranggapan bahwa manajemen itu
berasal dari kata “mantis” yang berarti tangan dan “agere” yang artinya
melakukan. Kemudian kata tersebut digabung menjadi kata kerja “managere” yang
berarti menangani. Kata “managere” yang diterjemahkan dari kata bahasa inggris
dalam bentuk kata kerja “to manage” untuk orang yang melakukan manajemen.
Manajemen merupakan usaha-usaha agar tercapainya suatu tujuan yang sudah
ditetapkan sebelumnya dengan menggunakan kekuatan orang lain (Terry,1997).
Menurut stoner Freeman, dan Gilbert (2005) mengatakan bahwa manajemen merupakan
suatu proses dari perencanaan, pengorgansasian, kepemimpinan serta pengawasan
terhadap anggota organisasi dan penggunaan semua sumber daya yang mempunyai
organisasi agar tercapainya tujuan organisasi.
2.
Pengertian Manajemen Kelas
Manajemen kelas terdiri dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas. Manajemen
adalah suatu rangkaian usaha yang berguna agar tercapainya tujuan yang sudah
ditetapkan dengan memanfaatkan orang lain, sedangkan yang dimaksud dengan kelas
ialah suatu kelompok yang melakukan kegiatan belajar bersama sesuai dengan
tujuan yang sudah ditetapkan, dan di dalam kelas tersebut, guru bertugas
sebagai manajer utama dalam merencanakan, mengorganisasikan,
mengaktualisasikan, dan melaksanakan pengawasan atau supervisi kelas.
Kelas dalam perspektif pendidikan yang dapat dipahami sebagai sekelompok
siswa yang berada pada waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama, dan
besumber dari guru yang sama. Nawawi (Djamrah, 2006:177) menyatakan bahwa
manajemen dapat diartikan sebagai kemampuan guru dalam mendayagunakan potensi
kelas berupa pemberian kesempatan yang seluas-luasnya pada setiap individu untk
melakukan kegiatan-kegiatan yang kreatif dan terarah.
Manajemen kelas merupakan suatu usaha sadar yang berguna untuk
merencanakan, mengorganisasikan, dan melaksanakna pengawasan atau supervisi
terhadap program dan suatu kegiatan yang ada di kelas sehingga proses belajar
mengajar dapat berlangsung secara sistematis, efektif, dan efisien, sehingga
segala potensi siswa mampu di optimalkan.
3.
Jenis kelas
a.
Kelas yang ribut. Guru harus bisa menghabiskan banyak waktu untuk mengawasi
kelas yang ribut. Keributan itu disebabkan oleh perilaku dan sikap siswa yang
sulit untuk diberitahu, diberi instruksi, dan diatur oleh guru. Siswa cenderung
sangat aktif dan tidak disiplin. Selain itu aturan, petunjuk, dan teguran
sering diabaikan oleh siswa, sebab siswa menganggap hukuman yang diberikan oleh
guru dianggap sepele.
b.
Kelas yang kondusif. Berbeda halnya dengan kelas yang ribut. Kelas yang
kondusif mempunyai iklim yang positif bagi berlangsungnya kegiatan belajar
mengajar. Guru mampu menciptakan suasana dan kondisi belajar yang menyenangkan
bagi siswa. Tidak hanya itu, model dan metode pembelajaran yang ditetapkan oleh guru pun bersifat
atraktif dan mampu merangsang kreativitas siswa.
c.
Kelas yang disiplin dan tenang. Guru yang termapil akan mampu menciptakan
kelas yang disiplin dan tenang. Siswa yang patuh terhadap aturan yang telah
ditetapkan oleh guru di kelas sebab aturan itu telah disetujui oleh siswa untuk
diterapkan di kelas. Pelanggaran yang dilakukan oleh siswa akan dicatat, diberi
sanksi, dan di dievaluasi untuk efektifitasnya.
d.
Kelas yang berlangsung secara alamiah. Kelas yang alamiah beroperasi dengan
sendirinya. Guru akan menghabiskan waktunya untuk melaksanakan tugasnya sebagai
pengajar. Siswa mampu mengikuti pelajaran dengan mandiri tanpa pengawasan ketat
yang dilakukan oleh guru. Siswa yang terlibat dalam proses belajar aktif untuk
saling berinteraksi.
4.
Pendekatan dalam Manajemen
a.
Pendekatan prosesoperasional. Manajemen dapat dianalisi dari sudut
pandangan apa yang diperbuat seorang manajer untuk memenuhi persyaratan sebagai
seorag manajer. Kegiatan dan fungsi-fungsi dasar membentuk suatu proses yang
dapat dinamakan proses manajemen. Pendekatan proses itu memusatkan perhatiaanya
pada fungsi-fungsi dasar manajemen. Proses pendekatan itu sangat berguna, sebab
ia sangat menolong dalam mengembangakan pemikiran manajemen dan membantu
menentukan bentuk manajemen dalam ketentuan-ketentuan yang dapat dipahami.
Setiap kegiatan belajar oleh seorang manjer dapat digolongkan sejajar dengan
proses dasar itu. Yang menganut pendektan ini memandang manajemen sebagai suatu
proses universal, tapi yang menganut pendekatan ini juga harus memahami itu digunakan,
berbeda-beda diantara organisasi.
b.
Pendekatan perilaku manusia. Pemahaman manajemen dalam pendekekatan ini
melalui metode dan konsep ilmu sosial, terkhusus psikologi dan antropologi.
Pendektana ini mempunyai penekanan yang terletak pada hubungan antar individu,
serta bagaimana dampaknya. Individu dipandai sebagai makhluk sosio-psikologis.
Sebagaimana orang memandang manajer itu sebagai pemimpin dan memperlakukan
semua kegiatan-kegiatan orang yang dipimpinnnya sebagai keadaan-keadaan
maanjerial. Motivasi perilaku manusia dapat berdampak pada pengaruh lingkungan.
c.
Pendekatan sistem sosial. Pendekatan ini berorientasi secara sosiologis,
yang berhubungan dengan berbagai kelompok sosial dan budaya, serta berusaha
menyatukan kelompok-kelompok tersebut kedalam suatu sistem sosial. Pendekatan
ini melahirkan pandangan yang berhubungan dengan organisasi informal, yang
sudah dianggap tumbuh menjadi sesuatu, yang disebabkan oleh kekuatan sosial.
d.
Pendekatan sistem. Sistem adalah bagian penting yang dikembangkan oleh pendekatan
ini. Suatu sistem dapat dipandang sebagai suatu gabungan atau himpunan dua
komponen atau lebih, yang saling berkaitan dalam pola hubungan tertentu. Sistem
adalah seperangkat komponen yang saling berhubungan dan saling beraksi.
Pendekatan ini menyederhanakan dan menyatukan konsepsi berbagai kegiatan yang
rumit menjadi lebih sederhana.
e.
Pendekatan kuantitatif. Pendektan ini dikembangkan melalui model, proses,
hubungan, dan data matematika yang dapat diukur. Pendekatan kuantitatif
memandang manajemen sebagai kedaulatan yang logis, dengan menggunakan
metodologi yang dapat diterima. Pendekatan kuatitatif berhubungan dengan
pengambilan keputusan, maka pendekatan kuantitatif merupakan salah satu bentuk
manajemen efektif.
5.
Tujuan Manajemen Kelas
Tujuan merupakan sebuah titik akhir dari kegiatan dan
tujuan sebagai pangkal tolak pelaksanaan kegiatan selanjutnya. Tujuan akan
berhasil jika dilihat dari efektifitas dalam pencapaian tujuan itu dan tingkat
efisiensi dari penggunaan berbagai sumber daya yang dimiliki. Keberhasilan suatu
proses manajemen kelas dapat dilihat dari tujuan yang ingin dicapainya, oleh
sebab itu pendidik harus menetapkan
tujuan yang hendak dicapai dengan kegiatan manajemen kelas yang dilakukannya.
Pada umumnya manajemen kelas bertujuan untuk meningkatakan efektivitas dan
efisiensi dalam pencapaian tujuan pembelajaran.
Ketercapaian tujuan manajemen kelas dapat dideteksi dan
dapat dilihat dari:
a.
Anak-anak akan memberikan respon yang sama terhadap perlakuan yang sopan
dan penuh perhatian dari orang yang lebih dewasa.
b.
Anak-anak akan rajin melakukan tugas-tugas dengan konsentrasi jika tugas
ini sesuai dengan kemampuannya.
6.
Pendekatan Manajemen Kelas
a.
Pendekatan kekuasaan: dapat dipahami jika pendekatan kekuasaan dalam
manajemen kelas itu ialah suatu proses untuk
mengontrol perilaku peserta didik didalam kelas. Disinilah peran guru untuk
menciptakan dan mempertahankan keadaan kelas yang disiplin. Yang perlu
dilandasi guru dalam menciptakan kedisiplinan ialah kekuasaan dan norma yang mengikat
untuk ditaati oleh individu yang ada di kelas. Dengan itu, fungsi guru adalah
sebagai seseorang yang berkuasa di dalam kelas yang perlu dipahami dan
diterapkan dengan baik, agar peserta didik dapat mencapai tujuan belajar dan
pembelajaran dengan baik.
b.
Pendekatan ancaman: ialah pendekatan untuk mengontrol perilaku peserta
didik di dalam kelas. Pendektan ini dapat di implememtasikan melalui papan
larangan, sindiran saat belajar, dan paksaan kepada peserta didik yang
membantah, dan itu berguna agar peserta didik mau mengikuti diinstruksikan oleh
guru. Peran guru dalam pendektan ini ialah untuk memberi efek jera keada
peserta didik yang mana tujuannya untuk peserta didik agar mamapu belajar
sesuai dengan tujuan pembelajaran yang sudah ditetapkan.
c.
Pendekatan kebebasan: pendektan ini dapat dipahami sebagai salah satu
proses untuk membantu peserta didik agar merasa memiliki kebebasan untuk
mengerjakan sesuatu sesuai dengan apa yang ia inginkan, tanpa dibatasi oleh
waktu dan tempat. Peran guru dalam pendektan ini ialah mengusahakan dengan
semaksimal mungkin bahwa kebebasan peserta didik merupakan prioritas dalam
proses belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan di kelas. Pendekatan
kebebasan ini harus diawasi dengan ketat dari guru agar proses belajar yang dilalui
sesuai dengan apa yang diharapakan dan ditetapkan dalamsuatu tujuan belajar dan
pembelajaran.
d.
Pendekatan resep: pendekatan ini dilaksanakan dengan memberikan satu daftar
yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan
oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau sistuasi yang terjadi di dalam
kelas.
e.
Pendekatan pengajaran: pendekatan ini didasari oleh anggapan bahwa
pengajaran yang baik itu akan mampu mencegah munculnya masalah yang disebakan
oleh peserta didik di dalam kelas. Pendektan ini menyarankan untuk guru
berperilaku sebagai pengajar pembelajaran dalam rangka mencegah dan
menghentikan perilaku peserta didik yang kurang baik di dalam kelas.
f.
Pendekatan perubahan perilaku: yang dimaksud pendekatan ini ialah suatu
proses untuk mengubah perilaku peserta didik di dalam kelas. Peran guru disini
ialah untuk mengembangkan perilaku peserta didik yang baik, dan mencegah
perilaku yang kurang baik.
g.
Pendekatan sosio emosional: pendektan ini akan tercapai secara optimal jika
hubungan antar pribadi yang baik berkembang di dalam kelas. Hubungan ini
meliputi hubungan antar guru dengan peserta didik, serta hubungan antar peserta
didik. Dalam hal ini, guru adalah kunci dalam mengembangan hubungan ini.
h.
Pendektan elektis atau pluralistik: ialah pengelolaan kelas dengan
memanfaatkan berbagai macam pendekatan dalam rangka menciptakan dan
mempertahankan kondisi belajar yang efektif dan efisien.
i.
Pendekatan teknologi dan informasi: pendekatan ini berasumsi bahwa
pembelajaran tidak cukup hanya dengan kegiatan ceramah dan transfer
pengetahuan, bahwa pembelajaran yang moderen perlu memanfaatkan penggunaan
teknologi dan informasi di dalam kelas.
7.
Prinsip Manajemen Kelas: hangat, antusias, tantangan, bervariasi,
keluwesan, penekanan hal yang positif, dan penanaman kedisiplinan.
8.
Faktor yang mempengaruhi Manajemen Kelas
a.
Lingkungan fisik
b.
Kondisi sosio emosional
c.
Kondisi organisasional
9.
Komponen keterampilan Manajemen Kelas
Komponen keterampilan manajemen kelas pada umumnya dibagi menjadi dua
bagian, yaitu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan
kondisi belajar yang optimal (bersifat preventi) dan keterampilan yang
berhubungan dengan pengendaliaan kondisi belajar yang optimal.
10.
Permasalahan dalam Manajemen Kelas
a.
Campur tangan yang berlebihan
b.
Kesenyapan
c.
Ketidak tepatan melalui dan mengakhiri kegiatan
d.
Penyimpangan
e.
Bertele-tele
f.
Pengulangan penjelasan yang tidak perlu
Referensi :
Toharuddin,Moh. 2020. Buku Ajar Manajemen kelas.
Semarang : IKAPI