Selasa, 27 Juli 2021

Kurikulum

 

Nama : Meta Dwi Julianti

Kelas : PAI/4E

NIM : 11901043

Makul : Magang 1

Dosen Pengampu : Farninda Aditya, M.Pd

 

Kurikulum

A.    Pengertian Kurikulum

            Kurikulum berasal dari bahasa yunani yang mula-mula di gunakan dalam bidang olahraga, yaitu kata currere, yang berarti jarak tempuh. Dalam arti sempit atau tradisional kurikulum merupakan sejumlah mata pelajaran disekolah atau diperguruan tinggi yang harus ditempuh untuk mendapatkan ijazah atau naik tingkat. Sedangkan arti luas atau modern kurikulum merupakan pengalaman, kegiatan dan pengetahuan murid di bawah bimbingan dan tanggungjawab sekolah atau guru.

B.     Hubungan Kurikulum dan Pengajaran

Kurikulum dipandang sebagai suatu rencana yang disusun untuk melancarakan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan serta staf pengajarnya. Sedangkan pengajaran ialah interaksi antara guru dengan seseorang atau lebih peserta didik untuk mencapai tujuan sesuai kurikulum yang berlaku. Oleh karena itu anatara keduanya sangat erat kaitannya maka para ahli menganggap bahwah kurikulum dan pengajaran adalah suatu kesatuan dengan demikian tidak perlu dibedakan karena yang satu berpengaruh terhadap yang lain. 

C.     Komponen Tujuan Kurikulum

Komponen tujuan dalam rancangan kurikulum menjadi ide atau gagasan awal yang diinginkan dalam setiap proses pendidikan. Rancangan tujuan memberikan arah terhadap proses pendidikan sesuai dengan yang dicita-citakan. Ada pendapat para ahli tetang pentingnya rumusan tujuan dari suatu kurikulum.

1.      Tujuan memberikan pegangan mengenai apa yang harus dilakukan, bagaimana cara melakukannya, dan merupakan patokan untuk mengetahui sampai dimana tujuan itu telah dicapai.

2.      Tujuan memegang peranan sangat penting, akan mewarnai komponen-komponen lainnya dan akan mengarahkan semua kegiatan mengajar.

3.      Tujuan kurikulum yang dirumuskan menggambarkan pula pandangan para pengembang kurikulum mengenai pengetahuan, kemampuan, serta sikap yang ingin dikembangkan.

Berangkat dari pemikiran para ahli tentang tujuan di atas, maka tujuan merupakan suatu pedoman dan langkah dalam menemukan sesuatu yang diinginkan. Tujuan yang jelas akan memberi petunjuk yang jelas pula terhadap pemilihan isi/bahan ajar, strategi, media pembelajaran, dan evaluasi. Bahkan, dalam berbagai model pengembangan kurikulum, tujuan ini dianggap sebagai dasar, arah, dan patokan dalam menentukan komponenkomponen yang lainnya. Ada ahli kurikulum yang memandang tujuan sebagai proses (process).

Tujuan kurikulum tidak terlepas diri tuntutan dan kebutuhan masyarakat, yang didasari oleh falsafah dan ideologi suatu bangsa. Hal ini dapat dimengerti sebab upaya pendidikan itu sendiri merupakan subsistem dalam sistem masyarakat dan negara, sehingga kekuatan sosial, politik, budaya, ekonomi sangat berperan dalam menentukan tujuan kurikulum atau tujuan pendidikan, terutama tujuan yang sifatnya umum (nasional). Tujuan-tujuan tersebut membentuk suatu hierarki yang saling berkaitan dan mempengaruhi satu sama lain.

D.    Jenis-jenis Kurikulum

Dalam menyusun kurikulum, sangatlah tergantung pada asas organisatoris, yakni bentuk penyajian bahan pelajaran atau organisasi kurikulum. Ada tiga pola organisasi kurikulum, yang dikenal juga dengan sebutan jenis-jenis kurikulum atau tipe-tipe kurikulum. Adapun jenis-jenis kurikulum tersebut adalah:

1.      Separated Subject Curriculum: Kurikulum ini dipahami sebagai kurikulum mata pelajaran yang terpisah satu sama lainnya. Kurikulum matapelajaran terpisah (separated subject curriculum) berarti kurikulumnya dalam bentuk mata pelajaran yang terpisah-pisah, yang kurang mempunyai keterkaitan dengan mata pelajaran lainnya. Konsekuensinya, peserta didik harus semakin banyak mengambil mata pelajaran. Kurikulum mata pelajaran dapat menetapkan syarat-syarat minimum yang harus dikuasai anak, sehingga peserta didik bisa naik kelas. Biasanya bahan pelajaran dan textbook merupakan alat dan sumber utama pelajaran. Kurikulum matapelajaran atau subject curriculum terdiri dari matapelajaran (subject) yang terpisah-pisah, dan subject itu merupakan himpunan pengalaman dan pengetahuan yang diorganisasikan secara logis dan sistematis oleh para ahli kurikulum (exsperts). Kalau kita lihat gambar berikut, diharapkan akan semakin jelas kurikulum matapelajaran ini.

2.      Correlated Curriculum : Kurikulum jenis ini mengandung makna bahwa sejumlah matapelajaran dihubungkan antara yang satu dengan yang lain, sehingga ruang lingkup bahan yang tercakup semakin luas. Sebagai contoh, pada matapelajaran fiqih apat dihubungkan dengan matapelajaran al-Qur'an dan al-Hadith. Pada saat peserta didik mempelajari sholat, dapat dihubungkan dengan matapelajaran al-Qur'an dan Hadis. Pada saat peserta didik mempelajari sholat, dapat dihubungkan dengan pelajaran al-Qur'an (Surat al-fatihah, dan surat lainnya) dan hadis yang berhubungan dengan sholat, dan lain sebagainya.

3.      Broad Fields Curriculum : Kurikulum Broad Fields kadang-kadang disebut kurikulum fusi. Taylor dan Alexander menyebutkan dengan sebutan The Broad FieldofSubject Matter. Broad fields menghapuskan batas-batas dan menyatukan matapelajaran (subject matter) yang berhubungan erat. Hilda Taba mengatakan bahwa The Broad Fields Curriculum is 'essentially an effort to automatization of curriculum by combining several specific areas large fields' (The Broad Fields Curriculum adalah usaha meningkatkan kurikulum dengan mengkombinasikan beberapa matapelajaran).38 Sebagai contoh: sejarah, geografi, ilmu ekonomi, dan ilmu politik disatukan menjadi Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

4.      Integrated Curriculum : Kurikulum terpadu (integrated curriculum) merupakan suatu produk dari usaha pengintegrasian bahan pelajaran dari berbagai macam pelajaran. Integrasi diciptakan dengan memusatkan pelajaran pada masalah tertentu yang memerlukan solusinya dengan materi atau bahan dari berbagai disiplin atau matapelajaran. Kurikulum jenis ini membuka kesempatan yang lebih banyak untuk melakukan kerja kelompok, masyarakat dan lingkungan sebagai sumber belajar, mementingkan perbedaan individual peserta didik, dan dalam perencanaan pelajaran siswa diikutsertakan. Kurikulum terpadu sangat mengutamakan agar peserta didik dapat memiliki sejumlah pengetahuan secara fungsional dan mengutamakan proses belajarnya. Yang dimaksudkan cara memperoleh ilmu secara fungsional adalah karena ilmu tersebut dikelompokkan berhubungan dengan usaha memecahkan masalah yang ada. Sebagai contoh, dengan belajar membuat radio, peserta didik sekaligus mempelajari hal-hal lain yang berkaitan dengan listrik, siaran, penerimaan, dan sebagainya.

        E. Model Pengembangan Kurikulum 

Model adalah konstruksi yang bersifat teoritis dari konsep. Banyak model yang dapat di gunakan dalam pengembangan kurikulum. Di dalam pemilihan suatu model kurikulum bukan hanya didasarkan pada kelebihan dan kekurangan- kekurangannya saja, tetapi juga harus mempertimbangkan dengan sistem pendidikan dan sistem pengelolahan pendidikan ana yang dianut serta model konsep pendidikan mana yang digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam sistem pendidikan dan pengelolahan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan yang desentralisasi. Model pengembangan dalam kurikulum yang sifatnya subjek akademis berbeda dengan kurikulum yang humanistik, teknologis, dan rekonstruksi sosial. Menurut Robert S.Zain dalam Dakir, berbagai model dalam pengembangan kurikulum secara garis besar diutarakan sebagai berikut:

1.      Model Administratif 

        Model  administratif  diistilahkan  juga  model  garis  staf  atau topdown dari  atas  kebawah.  Pengembangan  kurikulum  dilaksanakan sebagai berikut:

a.       Atasan  membentuk  tim  yang  terdiri  atas  pejabat  teras  yang berwenang (pengawas pendidikan, Kepsek, dan pengajar inti).

b. Tim merencanakan konsep rumusan tujuan umum dan rumusan falsafah yang diikuti.

c.       Dibentuk  beberapa  kelompok  kerja  yang  anggotanya terdiri  atas para  spesialis  kurikulum  dan  staf  pengajar  yang  bertugas  untuk merumuskan tujuan khusus, GBPP, dan kegiatan belajar.

d.      Hasil  kerja  dari  butir  3  direvisi  tim  atas  dasar  pengalaman  atau hasil daritry out.

e.       Setelah try out yang dilakukan oleh beberapa kepala sekolah, dan telah      direvisi      seperlunya,      baru      kurikulum      tersebut diimplemantasikan.

 

2.      Model dari Bawah(Grass-Roats)

a.       Inisiatif pengembangan datang dari bawah (para pengajar)

b.      Tim  pengajar  dari  beberapa  sekolah  ditambah  nara  sumber  lain dari orang tua siswa atau masyarakat luas yang relevan.

c.       Pihak atasan memberikan bimbingan dan dorongan.

d.      Untuk  pemantapan  konsep  pengembangan  yang  telah  dirintisnya diadakan lokakarya untuk input yang diperlukan.

 

3.      Model Demonstrasi

a.       Staf    pengajar    pada    satu    sekolah    menemukan    suatu    ide pengembangan dan ternyata hasilnya dinilai baik.

b.      Kemudian hasilnya disebarluaskan di sekolah sekitar.

 

4.      Model Beaucham

Model  ini  dikembangkan  oleh  G.A.  Beauchsmp  (1964)  dalam Dakir. Langkah langkahnya adalah:

a.       Suatu gagasan pengembangan kurikulum yang telah dilaksanakan di  kelas,  diperluas  di  sekolah,  disebarkan  di  sekolah-sekolah  di daerah  tertentu  baik  berskala  regional  maupun  nasional  yang disebut arena.

b.      Menunjuk tim pengembang yang terdiri atas ahli kurikulum, para ekspert, staf pengajar, petugas bimbingan, dan nara sumber lain.

c.       Tim menyusun tujuan pengajaran, materi, dan pelaksanaan proses belajar  mengajar.  Untuk  tugas  tersebut  perlu  dibentuk:  dewan kurikulum sebagai koordinator yang bertugas juga sebagai penilai pelaksanaan      kurikulum,      memilih      mata      pelajaran      baru, menentukan  berbagai  kriteria  untuk  memilih  kurikulum  mana yang   akan   dipakai,   dan   menulis   secara   meyeluruh   mengenai kurikulum yang akan dikembangkan

d.      Melaksanakan kurikulum disekolah.

e.       Mengevaluasi kurikulum yang berlaku.

 

5.      Model Terbalik Hilda Tada

Model  terbalik  ini  dikembangkan  oleh  Hilda  Tada  atas  dasar data    induktif    yang    disebut    model    terbalik,    karena    biasanya pengembangan   kurikulum   didahului   oleh   konsep-konsep   yang datanganya   dari   atas   secara   deduktif.   Sebelum   melaksanakan langkah-langkah   lebih   lanjut,   terlebih   dahulu   mencari   data   dari lapangan  dengan  cara  mengadakan  percobaan,  kemudian  disusun teori  atas  dasar  hasil  nyata,  baru  diadakan  pelaksanaan.  Langkah- langkahnya sebagai berikut:

a.       Mendiagnosis    kebutuhan,    merumuskan    tujuan,    menentukan meteri,  menemukan  penilaian,  memperhatikan  antara  luas  dan dalamnya bahan, kemudian disusunlah suatu unit kurikulum.

b.      Mengadakan try out.

c.       Mengadakan revisi atas data try out.

d.      Menyusun kerangka kerja teori.

e.       Mengemukakan kurikulum baru yang akan didesiminasikan.

 

6.      Model Hubungan Interpersonal dari Rogers

Kurikulum       yang       dikembangkan       hendaknya       dapat mengembangkan   individu   secara   fleksibel   terhadap   perubahan-perubahan    dengan    cara    melatih    diri    berkomunikasi    secara interpersonal. Langkah-langkahnya:

a.       Diadakannya  kelompok  untuk  dapatnya  hubungan  interpersonal di tempat yang tidak sibuk.

b.      Kurang lebih dalam satu minggu para peserta mengadakan saling tukar pengalaman, di bawah pimpinan staf pengajar.

c.       Kemudian  diadakan  pertemuan  dengan  masyarakat  yang  lebih luas  lagi  dalam  satu  sekolah,  sehingga  hubungan  interpersonal akan menjadi lebih sempurna, yaitu hubungan antara guru dengan guru, guru dengan siswa, siswa dengan siswa dalam suasana yang akrab.

d.      Selanjutnya    pertemuan    diadakan    dengan    mengikutsertakan anggota yang lebih luas lagi, yaitu dengan mengikutsertakan para pegawai  administrasi  dan  orang  tua  siswa.  Dalam  situasi  yang demikian     diharapkan     masing-masing     person     akan     saling menghayati   dan   lebih   akrab,   sehingga   memudahkan   berbagai pemecahan problem sekolah yang dihadapi.Dengan   langkah-langkah  tersebut,   diharapakan   penyusunankurikulum  akan  lebih  realistis,  karena  didasari  oleh  kenyataan  yang diharapkan.

 

7.      Model Action Research yang Sistematis

Faktor- faktor  yang  perlu  dipertimbangkan  dalam  penyusunan kuikulum    yang    adanya    hubungan    antara    manusia,    keadaan organisasi     sekolah,     situasi     masyarakat,     dan     otoritas     ilmu pengetahuan. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

a.       Dirasa  adanya  problem  proses  belajar  mengajar  disekolah  yang perlu diteliti.

b.      Mencari   sebab-sebab   terjadinya   problem   dan   sekaligus   dicari pemecahannya,  kemudian  menetukan  putusan  apa  yang  perlu diambil sehubungan dengan masalah yang timbul tersebut.

c.       Melaksanakan putusan yang telah diambil.

 

Sabtu, 10 Juli 2021

Karakteristik Peserta Didik

 

Nama : Meta Dwi Julianti

Kelas : PAI/4E

NIM : 11901043

Makul : Magang 1

Dosen Pengampu : Farninda Aditya, M.Pd

 

Karakteristik Peserta Didik

 

A.    Karakteristik Peserta didik

Karakteristik peserta didik adalah salah satu aspek-aspek dari kondisi pengajaran. Aspek- aspek ini seacam bakat, minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berfikir dan kemampuan awal yang sudah dimilikinya. Setiap manusia memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Karakteristik peserta didik merupakan perilaku dan kemampuan yang ada pada pada masing-masing anak sebagai hasil dari interaksi antara pembawaan dengan lingkungan sosialnya, sehingga dapat menentukan pola aktivitasnya dalam mewujudkan harapan dan meraih cita-cita. Oleh karena itu, upaya dalam memahami perkembangan peserta didik harus dikaitkan atau disesuaikan dengan karekteristik peserta didik itu sendiri. Guru bukan hanya harus memahami karekteristik anak secara individu, tapi ia juga perlu memahami karekteristik anak secara kelompok.

Empat pokok hal dominan dari karakteristik siswa yang harus dipahami oleh guru yaitu :

1.      Kemampuan dasar seperti kemampuan kognitif atau intelektual.

2.      Latar belakang kultural lokal, status sosial, status ekonomi, agama dll.

3.      Perbedaan-perbedaan kepribadian seperti sikap, perasaan, minat, dll

4.      Cita-cita, pandangan ke depan, keyakinan diri, daya tahan,dll

Mengidentifikasi kemampuan awal dan karakteristik peserta didik mempunyai tujuan yaitu :

1.      Memperoleh informasi yang lengkap dan akurat berkenaan dengan kemampuan serta karakteristik awal siswa sebelum mengikuti program pembelajaran tertentu.

2.      Menyeleksi tuntutan, bakat, minat, kemampuan, serta kecenderungan peserta didik berkaitan dengan pemilihan program-program pembelajaran tertentu yang akan diikuti mereka.

3.      Menentukan desain program pembelajaran dan atau pelatihan tertentu yang perlu dikembangkan sesuai dengan kemampuan awal peserta didik.

 

B.     Menganalisis karekteristik peserta didik

      Hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam menganalisis karakteristik peserta didik dalam rangka mengoptimalkan prestasi belajar, antara lain:

1.      Kepribadian adalah suatu sistem yang dinamis dari sifat-sifat, sikap dan kebiasaan yang menghasilkan tingkat konsistensi respons individu yang beragam. Sifat-sifat kepribadian mencerminkan perkembangan fisik, seksual, emosional, sosial, kognitif dan nilai-nilai. Masa remaja adalah saat berkembangnya jati diri. Perkembangan jati diri ialah isu sentral pada masa remaja yang memberikan dasar bagi masa dewasa. Apabila remaja gagal mengintegrasikan aspek-aspek dan pilihan atau merasa tidak mampu untuk memilih, maka dia akan mengalami kebingungan. Ada tugas-tugas perkembangan yang berasal dari kematangan kepribadian. Ini berkaitan dengan pertumbuhan sistem nilai dan aspirasi. Misalnya, anak usia sekolah dasar mulai muncul kesadaran akan perbedaan kelompok sosial dan ras, maka di usia ini ada tugas perkembangan untuk bisa menyikapi dengan tepat perbedaan tersebut. Ketika beranjak remaja muncul harapan tentang karier, sehingga muncul tugas perkembangan untuk memulai mempelajari pengetahuan dan keterampilan sebagai persiapan kerja.

2.      Peserta didik sebagai individu setelah dewasa dituntut untuk tanggung jawab sebagai warga sipil seperti membayar pajak dan memiliki pekerjaan.Pada usia sekolah dasar, seorang guru dituntut untuk memberikan bantuan dalam upaya mencapai setiap tugas tersebut. Bantuan itu berupa: 1) Penciptaan lingkungan teman sebaya yang mengajarkan keterampilan fisik. Contohnya, senam pagi, peserta didik dibagi ke beberapa kelompok, lalu mereka senam bersama-sama. Atau mereka dapat dibuat kelompok belajar, dengan membuat sebuah prakarya, 2) Pemberian pengalaman yang nyata dalam membangun konsep. Misalnya, seorang guru dapat menceritakan dogeng yang mengandung nilai-nilai kehidupan, sehingga peserta didik dapat mengambil nilai positif yang terkandung dalam isi cerita tersebut. Dengan begitu memudahkan peserta didik membangun konsepnya masing-masing.

3.      Guru diharapkan dapat membantu peserta didik di usia remaja dalam menjalankan tugas perkembangannya. Usaha itu dapat berupa: 1) Pada saat membahas topik-topik yang berkaitan dengan anatomi dan fisisologi, peserta didik wanita dan pria dipisahkan. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi kesalahpahaman, dan rasa penasaran yang berlebihan dari masing-masing peserta didik baik itu dari peserta didik wanita maupun pria, 2) Mengadakan kegiatan-kegiatan yang positif untuk menyalurkan hobi dan minat mereka. Pastikan kegiatan itu mempunyai tujuan dan menarik minat semua peserta didik untuk mengikutinya dan 3) Guru dapat menjadi contoh teladan yang baik peserta didik. Karena pada masa ini, peserta didik perlu model untuk dicontoh dalam perilakunya. Karena pada tugas perkembangannya, peserta didik SMP masih suka bersikap bimbang dan sering membandingkan. Ditakutkan jika seorang guru tidak dapat memberi contoh teladan yang baik, peserta didik tidak akan lagi percaya dengan nasihat yang diberikan. Mereka akan menganggap guru itu hanya omong kosong, tanpa ada bukti yang jelas.

4.      Guru dituntut untuk mampu memenuhi kebutuhannya. Yang dapat dilakukannya, antara lain: 1) Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang kesehatan reproduksi, bahaya penyimpangan seksual, dan penyalahgunaan narkotika, 2) Membantu peserta didik mengembangkan sikap apresiatif terhadap kondisi dirinya dan 3)Melatih peserta didik mengembangkan kemampuan bertahan dalam kondisi sulit dan penuh godaan.

5.      Implikasi pendidikan atau bimbingan dari periode berpikir operasi formal perlu disiapkan program pendidikan atau bimbingan untuk memfasilitasi perkembangan kemampuan berpikir remaja. Upaya yang dapat dilakukan seperti: Penggunaan metode mengajar yang mendorong anak untuk aktif bertanya, mengemukakan gagasan atau mengujicobakan suatu materi. Melakukan dialog, diskusi dengan peserta didik tentang masalah-masalah sosial atau berbagai aspek kehidupan seperti agama, etika pergaulan dan pacaran, politik, lingkungan hidup, bahayanya minuman keras dan obat-obatan terlarang.

6.      Guru sangat perlu untuk memahami perkembangan peserta didik meliputi: perkembangan fisik, perkembangan sosio-emosional, dan bermuara pada perkembangan intelektual. Perkembangan fisik dan perkembangan sosial mempunyai kontribusi yang kuat terhadap perkembangan intelektual atau perkembangan mental atau perkembangan kognitif peserta didik.Pemahaman guru terhadap perkembangan peserta didik sangat diperlukan untuk merancang pembelajaran yang kondusif yang akan dilaksanakan. Rancangan pembelajaran yang kondusif akan mampu meningkatkan motivasi belajar peserta didik sehingga mampu meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang diinginkan.

7.      Perkembangan fisik selama remaja dimulai dari masa pubertas. Pada masa ini terjadi perubahan fisiologis yang mengubah manusia yang belum mampu bereproduksi menjadi mampu bereproduksi. Hampir setiap organ atau sistem tubuh dipengaruhi oleh perubahan perubahan ini. Anak pubertas awal (prepubertal) dan remaja pubertas akhir (postpubertal) berbeda dalam tampakan luar karena perubahan perubahan dalam tinggi proporsi badan serta perkembangan ciri-ciri seks primer dan sekunder.

8.      Walaupun urutan kejadian pubertas itu umumnya sama untuk tiap orang, waktu terjadinya dan kecepatan berlangsungnya kejadian itu bervariasi. Rata-rata anak perempuan memulai perubahan pubertas 1,5 hingga 2 tahun lebih cepat dari anak laki laki. Kecepatan perubahan itu juga bervariasi, ada yang perlu waktu 1,5 hingga 2 tahun untuk mencapai kematangan reproduksi, tetapi ada yang memerlukan waktu 6 tahun. Dengan adanya perbedaan perbedaan ini ada anak yang telah matang sebelum anak matang yang sama usianya mulai mengalami pubertas.

 

C.     Hubungan karakteristik peserta didik dengan proses pembelajaran

      Karakteristik peserta didik sangat mempengaruhi keberhasilan pembelajaran. Peserta didik yang mempunyai kesiapan secara fisiologis dan psikologis akan mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik. Sebaliknya, yang kurang siap kemungkinan akan mengalami kesulitan. Guru dapat memanfaatkan perbedaan karakteristik peserta didik dalam mengelola kelas, terutama dalam penempatan dan pengelompokkan (Khodijah 2011:184). Dalam Melaksanakan pembelajaran yang bermutu ialah salah satu kewajiban guru. Proses pembelajaran ini dapat dilakukan di dalam kelas dan di luar kelas. Pada Umumnya, proses pembelajaran di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dilaksanakan di dalam kelas. Pembelajaran di kelas sangat memerlukan kemampuan guru dalam mengelola dengan sebaik-baiknya agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Salah satu pengelolaan yang dapat dilakukan ialah dengan mengatur tempat duduk dan mengelompokkan peserta didik sesuai dengan karakteristik psikologisnya. Misalnya, emosi mempunyai pengaruh terhadap proses belajar seseorang. Emosi positif akan mempercepat proses belajar dan mencapai hasil belajar yang lebih baik, sebaliknya emosi negatif dapat memperlambat belajar atau bahkan menghentikannya sama sekali. Oleh karena itu, proses pembelajaran yang berhasil haruslah dimulai dengan menciptakan emosi positif pada diri peserta didik. Dalam Usaha menciptakan emosi positif pada diri peserta didik dapat dilakukan dengan cara antara lain dengan menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.

 

D.    Hubungan Karakteristik dengan hasil belajar

      Karakteristik peserta didik mempunyai hubungan positif dengan hasil pembelajaran. Maka dari itu, semakin baik karakteristik peserta didik maka hasil belajar akan semakin baik atau meningkat. Sebaliknya, karakteristik peserta didik yang tidak baik akan menyebabkan hasil belajar tidak baik atau menurun. Misalnya, perbedaan intelegensi yang mana modal utama dalam belajar untuk mencapai hasil yang optimal. Setiap peserta didik memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut tampak dari proses dan hasil belajar yang dicapai. Pada proses belajar di kelas, ada peserta didik yang cepat menerima penyampaian guru dan ada yang lamban. Tinggi rendah hasil belajar tergantung pada tinggi rendah intelegensi yang dimiliki, walaupun intelegensi bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi hasil belajar.

      Karakteristik peserta didik sangat berbeda-beda antara satu dan lainnya, perbedaan karakteristik tersebut dapat diringkas menjadi tiga macam karakteristik, yaitu karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan fisiologis, karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan psikologis, dan karakteristik peserta didik yang berkaitan dengan lingkungan.

      Proses pembelajaran dikatakan berhasil jika mencapai hasil yang diharapkan. Proses pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pelaksanaan proses pembelajaran harus memperhatikan komponen-komponen yang ada didalamnya, yaitu: guru, peserta didik, tujuan, materi, metode dan alat, penilaian, sistem administrasi, personal administrasi, dan lingkungan belajar.

      Hasil pembelajaran ialah perubahan perilaku peserta didik secara menyeluruh setelah mengikuti proses pembelajaran yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Perbedaan karakteristik peserta didik berhubungan erat dengan proses pembelajaran yang dilaksanakan, ada beberapa cara yang dapat dilaksanakan untuk mengurai perbedaan-perbedaan tersebut, antara lain dengan memberikan program nutrisi kepada peserta didik yang berasal dari keluarga kurang mampu, menciptakan mekanisme sosial yang baik di antara para peserta didik, melaksanakan pembelajaran konstektual, program remedial (perbaikan) bagi yang belum tuntas, dan meningkatkan prosesionalisme guru diketahui mempunyai hubungan positif dengan hasil pembelajaran. Maka dari itu , semakin baik karakteristik peserta didik maka hasil belajar akan cenderung semakin baik atau meningkat. Jika karakteristik peserta didik yang tidak baik akan menyebabkan hasil belajar tidak baik atau menurun.