Nama : Meta Dwi Julianti
Kelas : PAI/4E
NIM : 11901043
Makul : Magang 1
Dosen Pengampu : Farninda Aditya, M.Pd
A. Kultur Sekolah
1. Pengertian Kultur Sekolah
Konsep kultur dalam dunia pendidikan berasal
dari kultur tempat kerja di dunia industri, yakni merupakan situasi yang akan
memberikan landasan dan arah untuk berlangsungnya suatu proses produksi
(baca:pembelajaran) secara efektif dan efisien. Sebagaimana tidak ada satu
definisi baku tentang budaya, demikian juga tidak ada definisi baku mengenai
kultur sekolah.( Zamroni,2000:149)
Adapun kultur sekolah yang dirumuskan Zamroni
ialah sebagai pola nilai-nilai,norma-norma, sikap, ritual, mitos dan kebiasaan
– kebiasaan yang terbentuk dalam perjalanan panjang sekolah, di mana kultur
sekolah tersebut dipegang bersama oleh kepala sekolah, guru, staf, maupun
siswa, sebagai dasar mereka dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan
yang muncul di sekolah.
2. Penciptaan Kultur Sekolah
Sekolah adalah sebuah organisasi. Kultur
sekolah adalah kultur organisasi dalam hal persekolahan, maka dari itu yang
dimaksud kultur sekolah sama halnya dengan kultur organisasi pendidikan. Kultur
dapat diartikan sebagai kualitas internal –latar, lingkungan, suasanan, rasa,
sifat, dan iklim yang dirasakan oleh seluruh orang.
kultur adalah konsep yang dikembangkan oleh pakar antropologi
organisasi. Kultur organisasi didefenisikan sebagai kualitas kehidupan (the quality of life) dalam sebuah organisasi,
termanifestasikan dalam aturan-aturan atau norma, tatakerja, kebiasaan kerja
(work habits), gaya kepemimpinan seseorang ataupun bawahan. Dalam rentang dua puluh tahun terakhir, topik
kultur dalam organisasi menarik perhatian banyak orang, khususnya mereka yang
mempelajari masalah perilaku organisasi. Sedangkan Mustopadidjaya berpendapat bahwa terkait
dengan teori organisasi dan manajamen terdapat empat paradigma yaitu: paradigma
organisasi klasik, paradigma hubungan kemanusiaan, paradigma keperilakuan dan
paradigma modern/ sistem. Salah satu di antaranya yang memiliki keterkaitan
dengan penulisan ini adalah paradigma perilaku.
3. Elemen-elemen Kultur Sekolah
Kultur sekolah adalah perangkat budaya yang
terdiri dari sejumlah norma – norma ,
ritual – ritual, keyakinan, nilai – nilai, sikap, mitos, dan kebiasaan yang terbentuk
sepanjang perjalanan sekolah yang bersangkutan. Fenomena yang unik dan menarik,
karena pandangan, sikap, serta perilaku yang hidup dan berkembang di sekolah
pada dasarnya mencerminkan, kepercayaan dan keyakinan yang mendalam dan khas
bagi warga sekolah yang dapat digunakan sebagai suatu spirit yang mendukung dan
membangun kinerja sekolah, ini merupakan bentuk dari kultur sekolah secara
intrinsik.
Menurut Hedley Beare (Sastrapratedja, 2001:
14) menyatakan bahwa ada dua kategori unsur-unsur budaya sekolah yaitu unsur
yang kasat mata dan unsur yang tidak kasat mata. Makna dari unsur yang tidak kasat
mata yaitu kalau berkaitan dengan yang tidak kesat mata, seperti filsafat atau
pandangan dasar sekolah mengenai kenyataan yang luas, makna hidup, tugas manusia
di dunia dan nilai – nilai, yaitu yang dianggap penting dan harus diperjuangkan
oleh sekolah. Sedangkan unsur yang kasat mata itu dapat termanifestasi secara
konseptual/verbal maupun visual/ materil, meliputi:
1. Visi, misi, tujuan dan sasaran
2. Kurikulum
3. Bahasa komunikasi
4. Narasi sekolah
5. Narasi tokoh-tokoh
6. Struktur organisasi
7. Ritual
8. Upacara
9. Prosedur belajar-mengajar
10. Peraturan, sistem hukuman
11. Pelayanan psikologis sosial
12. Pola interaksi sekolah dengan orang
tua/masyarakat, dan yang materil dapat berupa: a). Fasilitas dan peralatan; b).
Artifak dan tanda kenangan; c). pakaian seragam.
Kultur sekolah mempunyai dua lapisan, yaitu lapisan yang pertama ialah
lapisan yang bisa diamati seperti : arsitektur, tata ruang, eksterior dan
interior, kebiasaan dan rutinitas, peraturan –peraturan, cerita - cerita,
upacara, ritus – ritus, simbol, logo, slogan, bendera, gambar – gambar, tanda –
tanda sopan santun dan cara berpakaian. Lapisan yang tidak dapat diamati secara
jelas dapat berintikan norma perilaku bersama warga suatu organisasi. Lapisan
kedua kultur berupa nilai – nilai bersama yang di anut kelompok berhubungan
dengan apa yang penting, yang baik, dan yang benar. Lapisan kedua ini tidak
dapat diamati sebab terletak di dalam kehidupan bersama. Kalau lapisan yang
pertama berintikan norma perilaku bersama sukar diubah, jadi lapisan kedua yang
berintikan nilai-nilai dan keyakinan sangat sulit diubah serta memerlukan waktu
untuk berubah.
4. Peran kultur terhadap peningkatan kinerja
Sekolah
Sekolah merupakan suatu sistem yang memiliki 3
aspek pokok yang sangat berkaitan dengan mutu sekolah, yaitu dengan adanya
proses belajar mengajar, kepemimpinan dan manajemen sekolah, serta kultur
sekolah. Kultur sekolah sangat berpengaruh dalam kinerja siswa manakala
kualifikasi kultur sehat, solid, kuat, positif, dan profesional. Jadi dengan
begitu kultur sekolah menjadi komitmen luas di sekolah, menjadi jati diri dan
kepribadian sekolah. Dengan adanya kultur sekolah yang demikian, maka suasana
kekeluargaan, kolaborasi, semangat terus maju, dorongan bekerja keras dan
belajar-mengajar dapat diciptakan.
Konsep kultur sebagai suatu pendekatan dalam
upaya memperbaiki kondisi organisasi sekolah yang lebih menekankan kepada
penghayatan segi - segi simbolik, tradisi, riwayat sekolah yang kesemuanya akan
membentuk keyakinan, kepercayaan diri dan kebanggaan akan sekolahnya. Pendekatan
kultur tidak sama dengan pendekatan struktur. Pendekatan struktur cenderung
tampak ingin menciptakan hal – hal besar dengan mengubah struktur untuk
mengubah perilaku, sementara perilaku seseorang pada kenyataannya terlalu kuat untuk
direstrukturisasi atau direformasi dari luar. Sedangkan pendekatan kultur
justru mengusahakan agar muncul orang – orang besar, berjiwa besar atau dalam
arti membangun manusia yang meliputi sifat, karakter, visi, dan daya tahan
melalui internalisasi norma, sikap, kebiasaan serta nilai –nlai yang bersifat
positif. Jadi bukan hanya kecerdasan IQ yang tinggi menjadikan seseorang akan
berhasil tetapi juga dipengaruhi oleh motivasi, ketekunan, minat, kesabaran,
dan unsur – unsur kepribadian.
5. Pengembangan kultur untuk meningkatkan kinerja
siswa
Keberadaan siswa sangatlah penting dalam
kelangsungan pendidikan di sekolah. Membangun kegiatan pengajaran dan
pendidikan di sekolah tidak saja berarti membangun kegiatan kinerja guru
melainkan juga kinerja siswa. Pentingnya upaya – upaya meningkatkan kinerja
siswa dalam proses pemebelajaran dirinya,sebab pada hakikatnya merekalah
pemilik sekolah. Untuk membantu proses belajar siswa maka disediakannya sekolah
dan komponen lainnya.
Pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA)
adalah generasi muda dan aset bangsa yang mana dalam perkembangannya sangat
sensitif untuk menemukan jati dirinya atau dalam pembentukan watak dan karakter
pribadinya. Maka dari itu harus dipersiapkan generasi muda ini agar memiliki
watak dan karakter yang unggul dan tangguh dan memiliki komitmen terhadap
kewajibannya sebagai individu maupun anggota masyarakat.
Pendidikan yang berwujud lembaga atau
institusi sekolah dalam istilah kebudayaan. Pendidikan adalah proses
pembudayaan atau “enculturation”, suatu proses untuk mentasbihkan seseorang
mampu hidup dengan budaya tertentu. ( Zamroni, 2001: 25). Sementara itu dalam
perspektif kultur, Djohar (1999: 127) menyatakan bahwa sekolah merupakan tempat
mensosialisasikan nilai – nilai budaya, tidak hanya terbatas pada nilai–nilai
keilmuan tetapi semua nilai-nilai kehidupan yang memungkinkan terwujudnya
manusia berbudaya. Manusia berbudaya dapat dinilai dari kinerjanya yang
dipandang dari dimensi pengetahuan, cara berpikir, sikap, perilaku, cara kerja,
dari melihat dan menanggapi serta memecahkan masalah.
Pendidikan pada mulanya merupakan proses
respon psikologik anak terhadap rangsangan eksternal dari kondisi yang bersifat
alamiah, maupun yang sifatnya terjadi secara langsung sebagai manifestasi
budaya guru dan siswa secara umum, dan kondisi artifisial yang diciptakan oleh
sekolah. Dengan begitu pengembangan kultur akademik, kultur sosial dan kultur
membangun pribadi anak yang kondusif, dapat meningkatkan motivasi dan
pencapaian belajaranya termasuk dalam pengembangan kultur sekolah.
B. Aktivitas Siswa
Aktivitas
belajar merupakan aktivitas yang bersifat fisik dan mental, yang dilakukan oleh
setiap individu untuk membangun pengetahuan dan keterampilan dalam diri dalam
kegiatan pembelajaran. Dalam kegiatan belajar keduanya saling berkaitan.
Aktivitas belajar dapat terwujud apabila siswa terlibat belajar secara aktif.
Jenis kegiatan tersebut meliputi, membaca, merumuskan pembelajaran, bertanya,
memberi saran, mengeluarkan pendapat, mendengarkan percakapan, diskusi, menuli
scerita, menanggapi. Peran guru sangat penting dalam kelas, karna guru harus
mampu memberikan fasilitas berupa ilmu kepada anak peserta didik. Hal yang
terpenting bagi guru adalah memberikan motivasi pada siswa dan memberikan
penjelasan mengenai tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran.
Aktivitas belajar merupakan hal yang sangat penting bagi
siswa, karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk bersentuhan dengan obyek
yang sedang dipelajari seluas mungkin, karena dengan demikian proses konstruksi
pengetahuan yang terjadi akan lebih baik. Belajar
diperlukan aktivitas, sebab pada prinsipnya belajar adalah berbuat mengubah
tingkah laku, jadi melakukan kegiatan. Tidak ada belajar kalau tidak ada
aktivitas.
Adapun
aspek aktivitas belajar siswa ialah aktivitas lisan, aktivitas kognitif,
aktivitas motorik, aktivitas pengelihatan dan aktivitas pendengaran. Aspek
aktivitas Lisan ialah mengemukakan
suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian mengajukan pertanyaan,
memberi saran, mengemukakan pendapat, dan diskusi. Aktivitas kognitif ialah
semua proses dan produk pikiran untuk mencapai pengetahuan yang berupa aktifitas
mental (otak) seperti mengingat, mensimbolkan, mengkategorikan, memecahkan
masalah, menciptakan dan berfantasi. Aktivitas motorik adalah suatu istilah
yang digunakan untuk menggambarkan perilaku gerakan yang dilakukan oleh tubuh
manusia. Aktivitas penglihatan dalam pembelajaran yaitu segala kegiatan yang
berhubungan dengan aktivitas siswa dalam melihat, mengamati, dan memperhatikan.
Aktivitas pendengaran yaitu aktivitas yang berhubungan dengan kemampuan siswa
dalam berkonsentrasi menyimak pelajaran.
C. Pembelajaran
Pembelajaran merupakan proses kegiatan belajar mengajar yang juga
berperan dalam menentukan keberhasilan belajar siswa. Dari proses pembelajaran
itu akan terjadi sebuah kegiatan timbal balik antara guru dengan siswa untuk
menuju tujuan yang lebih baik. Oleh karena itu, proses pembelajaran musik yang
tepat di ekstrakurikuler band sangat dibutuhkan dalam kegiatan berkesenian
untuk menghasilkan sebuah karya musik (lagu) melalui aransemen yang pada
akhirnya lagu tersebut terkesan baru dan siswa mampu untuk membawakan musik
dengan baik. Untuk melakukan sebuah proses pembelajaran, terlebih dahulu harus
dipahami pengertian dari kata pembelajaran.
Proses pembelajaran adalah proses yang di dalamnya terdapat
kegiatan interaksi antara guru-siswa dan komunikasi timbal balik yang
berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan belajar. Dalam proses
pembelajaran, guru dan siswa merupakan dua komponen yang tidak bisa dipisahkan.
Antara dua komponen tersebut harus terjalin interaksi yang saling menunjang
agar hasil belajar siswa dapat tercapai secara optimal.
Adapun tujuan dari pembelajaran ialah sebagai upaya membekali diri siswa dengan kemampuan-kemampuan yang bersifat pengalaman, pemahaman moral dan keterampilan sehingga mengalami perkembangan positif. Dalam kegiatan belajar mengajar terdapat beberapa komponen pembelajaran yang saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya yaitu: 1) guru, 2) siswa, 3) materi pembelajaran, 4) metode pembelajaran, 5) media pembelajaran, 6) evaluasi pembelajaran.